17 September 2020, 13:07 WIB

Madrid Pertimbangkan Lockdown karena Infeksi Covid-19 Melonjak


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

WILAYAH Madrid, salah satu yang terparah dihantam pandemi covid-19 di Spanyol, berencana mengumumkan pembatasan pergerakan orang, Jumat (18/9).

Langkah itu dapat mencakup penguncian yang ditargetkan di hotspot virus, kata seorang pejabat senior, ketika infeksi di negara itu melonjak lagi.

Madrid menyumbang sekitar sepertiga dari kasus covid-19 aktif di Spanyol dengan insiden yang lebih tinggi di lingkungan dengan kepadatan tinggi dan berpenghasilan rendah, terutama di selatan ibu kota.

Kementerian kesehatan mencatat, Rabu (16/9), 4.728 infeksi baru dalam 24 jam terakhir, termasuk 1.854 di Madrid.

Baca juga: WHO Peringatkan Amerika Latin Soal Pelonggaran Dini

Angka itu naik dari 3.022 kasus yang dilaporkan pada Selasa (15/9) dan menjadikan penghitungan kumulatif menjadi 614.360--tertinggi di Eropa Barat. Dengan 17 kematian baru, korban tewas Spanyol telah mencapai 30.243.

Madrid juga menyumbang proporsi tertinggi kapasitas rumah sakit yang terisi pasien covid-19, yaitu sebesar 22%, jauh di atas rata-rata Spanyol yang sebesar 8,5%.

"Akan ada keputusan yang difokuskan pada pembatasan mobilitas," ujar kepala tanggap darurat covid-9 Madrid Antonio Zapatero, kepada wartawan.

Ia menambahkan departemen kesehatan sedang mempertimbangkan untuk mengunci daerah dengan insiden virus tertinggi.

"Ada kelonggaran perilaku yang tidak bisa kami biarkan," katanya, seraya menambahkan orang-orang mengadakan pesta, minum-minum di jalan, dan tidak menghormati aturan karantina.

Sejak pembatasan pergerakan dicabut dan pengujian massal dimulai pada akhir Juni, infeksi telah meningkat di Spanyol dari beberapa ratus sehari menjadi ribuan. Kematian juga meningkat menjadi 50-60 per hari dalam dua minggu terakhir dari satu digit pada Juli.

"Banyak orang melakukan apa pun yang mereka suka, jadi saya pikir kami perlu memberlakukan lebih banyak tindakan," kata Ines Diaz, warga Madrid.

Rencana terbaru muncul di tengah kontroversi di Spanyol mengenai siapa yang harus disalahkan atas peningkatan infeksi, dengan daerah dan pemerintah pusat saling tuding.

Kian menambah ketegangan, kepala daerah Madrid Isabel Diaz Ayuso menyalahkan "gaya hidup imigran" atas lonjakan tersebut, yang menuai kritik keras.

"Kami mengutuk kata-kata Anda yang mempromosikan stigma rasis dalam komunitas kami," kata asosiasi nirlaba SOS Racismo Madrid di Twitter, menambahkan para migran biasanya memiliki pekerjaan yang lebih berbahaya, perumahan yang kurang layak, dan lebih rentan terpapar virus.

Yang juga kontroversial adalah perkiraan daerah, yang dimasukkan dalam laporan yang diterbitkan Selasa, sekitar 40% dari infeksi aktif menyangkut 'orang yang lahir di luar Spanyol'. (Straits Times/OL-1)

BERITA TERKAIT