17 September 2020, 12:52 WIB

Pemerintah Telah Gelontorkan Rp695 Triliun untuk Covid-19


Insi Nantika Jelita | Ekonomi

PEMERINTAH telah menggelontorkan Rp695,2 T untuk penanggulangan pandemi dan pemulihan ekonomi nasional (PEN). Hal itu disampaikan Dirjen Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas Kementrian Ketenagakerjaan Budi Hartawan saat menjadi panelis dalam high-level Ministerial Conference on Human Resource Development (HRD) secara virtual, pada Rabu (16/9)

Budi mengungkapkan dari jumlah Rp695,2 triliun tersebut rincian anggarannya ialah Rp 87,55 triliiun untuk anggaran kesehatan, anggaran perlindungan sosial Rp 203,9 triliun, lalu insentif usaha Rp 120,61 triliun dan Rp 123,46 triliun disiapkan untuk sektor UMKM.

Baca juga: Usai Bongkar Aib Pertamina, Ahok Temui Erick Sampaikan Kritikan

"Pembiayaan korporasi menjadi Rp 53,57 triliun, dan untuk dukungan sektoral K/L dan Pemda sebesar Rp 106,11 triliun, " ujar Budi dikutip dalam keterangan resminya, Jakarta, Kamis (17/9).

Beberapa langkah pemerintah, sebut Budi, untuk penanganan dampak pandemi Covid-19 diantaranya mengalokasikan dana untuk penanganan Covid-19 sebesar 46,6 miliar dolar AS, termasuk stimulus ekonomi bagi para pelaku usaha sejumlah 17,2 miliar dolar AS.

Lalu, menyediakan program berupa insentif pajak penghasilan, relaksasi pembayaran pinjaman/kredit, dan dalam waktu dekat akan dikeluarkan kebijakan relaksasi iuran jaminan sosial ketenagakerjaan untuk meringankan sekitar 56 juta pekerja sektor formal.

Pemerintah juga menyediakan jaring pengaman sosial bagi pekerja sektor informal. Pemerintah memberikan bantuan sosial kepada 70,5 juta pekerja sektor informal yang termasuk dalam kategori miskin dan rentan.

Keempat, memprioritaskan pemberian insentif pelatihan melalui program kartu pra-kerja bagi pekerja yang ter-PHK.

Budi mengatakan, pemerintah telah memberikan insentif pelatihan dengan target tahun ini sebanyak 3,5-5,6 juta penerima manfaat dan hingga saat ini telah terealisasi lebih dari 680 ribu penerima manfaat didominasi oleh pekerja ter-PHK.

Budi menjelaskan, pandemi telah berdampak besar terhadap ekonomi Indonesia hingga menyebabkan minus 5,32 persen pada kuartal II-2020. Angka ini merupakan catatan terburuk sejak tahun1999 lalu.

Baca juga: Erick Thohir Berduka Atas Wafatnya Jurnalis Senior Alwi Shahab

Terakhir kali Indonesia mengalami kontraksi ekonomi adalah pada kuartal I tahun 1999, sebesar 6,13%.

"Pandemi berdampak di seluruh wilayah Indonesia. Yang paling parah adalah provinsi Jawa Barat, yang terdapat banyak kawasan industri dan DKI Jakarta selaku pusat ekonomi Indonesia," pungkas Budi. (OL-6)

BERITA TERKAIT