17 September 2020, 05:50 WIB

Tekanan Psikis akibat PJJ Bawa Korban


Syarief Oebaidillah | Humaniora

KOMISI X DPR RI meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) serta dinas pendidikan (disdik) di seluruh Indonesia untuk benar-benar memantau pelaksanaan pembelajaran jarak jauh dengan segala konsekuensinya. Banyaknya kendala di lapangan bisa menimbulkan tekanan psikis terhadap siswa, orangtua, maupun para guru dalam menjalani PJJ secara daring.

“Kasus pembunuhan anak oleh seorang ibu di Kota Tangerang, Banten, yang kesal akibat anaknya yang kelas 1 SD itu kesulitan mengerjakan soal PJJ, harus menjadi peringatan keras bagi kita semua,” ujar Ketua Komisi X DPR RI, Syaiful Huda, kemarin.

Menurut Huda, model pembelajaran jarak jauh memang mempunyai banyak kendala, baik dari rendahnya literasi digital di sebagian besar ekosistem pendidikan nasional, keterbatasan kuota data, belum solidnya metode pembelajaran jarak jauh, maupun tidak meratanya sinyal internet di berbagai wilayah Indonesia.“Berbagai kendala ini menciptakan tekanan psikologis yang lumayan besar bagi para siswa, guru, dan orangtua siswa,” ujarnya. Kondisi tersebut, lanjut Huda, diperparah dengan kondisi sosial ekonomi yang kian berat sebagai dampak pandemi covid-19.

Banyaknya pemutusan hubungan kerja, pemotongan gaji, hingga hilangnya kesempatan berusaha yang dialami sebagian orangtua siswa juga membuat beban hidup kian berat. “Bisa jadi berbagai tekanan tersebut menciptakan ledakan emosional jika dipicu hal-hal yang terkesan sepele, seperti anak yang tidak cepat mengerti saat melakukan pembelajaran jarak jauh,” ungkap Huda.

Kasus pembunuhan anak sekolah oleh orangtuanya sendiri karena proses PJJ itu juga disesalkan Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Rita Pranawati, kemarin. Menurut Rita, penting bagi orangtua untuk memahami kondisi psikologis dan fase tumbuh kembang anak.

Ada kecenderungan, imbuhnya, anak sendiri mengalami kebosanan luar biasa selama pandemi covid-19 sehingga perlu didampingi dan dibantu orangtua agar dapat menjalani proses pendidikan dan tumbuh kembang dengan baik.

“Anak kelas I SD tentu memerlukan proses adaptasi dari jenjang PAUD ke sekolah dasar. Dalam situasi pandemi, anak masih beradaptasi untuk mengerti sekolahnya sudah berganti, begitu juga dengan teman dan guru-gurunya,” tuturnya.

Khawatir

Terkait dengan dampak dari pandemi covid-19 terhadap pembelajaran anak, diakui Rita, sangat rentan. Kondisi psikologis orangtua, khususnya ibu berdampak pada kekerasan terhadap anak. “Menurut survei KPAI pada 2020, pengasuhan dan pendampingan dalam belajar dominan dilakukan ibu, padahal seharusnya dilakukan bersama kedua orangtua,” kata Rita.

Survei KPAI juga menemukan hanya 33,8% orangtua yang mendapatkan informasi tentang pengasuhan. Rendahnya pengetahuan tentang pengasuhan menyebabkan orangtua merasa anak dapat diperlakukan apa saja sesuai keinginan mereka. “Padahal, orangtua harus memahami pelindungan anak, hak-hak anak, serta fase tumbuh kembang anak. Selama pandemi, beban domestik menjadi berlipat karena orangtua juga harus mendampingi anak belajar di rumah,” tuturnya. (Ant/H-1)

 

BERITA TERKAIT