16 September 2020, 19:35 WIB

Pariwisata Babel Mulai Berdenyut, Pelesiran ke Pasar Pagi Yuk! 


Iis Zatnika | Nusantara

PASAR Pagi Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung (Babel) adalah cerita tentang harmoni budaya, kekayaan alam dan dalam kondisi saat ini, semangat warganya untuk bertahan di masa pandemi. Saya menjelajahinya pada Rabu (9/9) pagi, dan hanya dalam waktu kurang dua jam saja, bukan cuma kantung belanja saya yang penuh, namun banyak cerita yang membekas. 

Denyut kesibukan kota yang yang terdiri dari para Tionghoa, Melayu dan para pendatang dari berbagai penjuru Nusantara itu terasa betul di Pasar Pagi, pasar terbesar di kota dengan kedai-kedai kopi legendaris itu.

Target pertama saya, kopi bubuk bermerek Kingkong yang jadi favorit warga lokal serta banyak diburu para turis. Nyaris di setiap kedai-kedai penjual sembako, kopi ini hadir dalam berbagai ukuran, namun saya mendapatkannya di Toko Kopi Kingkong yang jadi salah satu agennya. 

Penjualnya lugas menyatakan ada dua pilihan, kopi dengan campuran jagung yang harganya lebih murah dan murni dari biji yang lebih mahal. Saya memilih membeli yang nomor satu seukuran 200 gram yang menurut Dodi, pemuda Melayu yang mengantar saya ke sana, wangi nan sedap.

"Kami nggak punya kebun kopi, biji didatangkan dari Palembang dan wilayah Sumatra lain, tapi diolah di sini. Tiap warung kopi di sini, misalnya Tungtau yang sudah ada dari zaman Belanda,  punya mesin pemanggangan sendiri dan tekniknya masing-masing, termasuk Kingkong ini,"ujar Dodi. 

Selanjutnya, ikan asin tenggiri seukuran lebih dari setengah meter, cumi-cumi lebar yang dikeringkan, pun kemplang aneka ukuran dan rupa segera menarik mata. Teri, tenggiri, peda, cumi, semuanya segar dan harganya lebih murah nyaris 50% dibanding di Jakarta. Ada botol bertuliskan rusip yang kemudian mencuri perhatian.

"Rusip itu ikan fermentasi, ada yang dibuat dari teri, lebih putih warnanya dan kasar, dan yang dari udang ini lebih cokelat dan halus. Dimakannya cukup dengan dicocol, bisa dicampur sambal bawang erah dan rawit. Rusip ini memang asin dan tak biasa rasanya tapi orang Bangka senang menyantapnya dengan lalapan daun ubi," ujar sang penjual yang kemudian sukses membuat saya membeli sebotol kecil seharga Rp 17.500.

Masih soal dapur, ada pula primadona Bangka yang ngetop hingga ke Jakarta, terasi! Di sini tersedia terasi yang disebut premium yang dijual Rp 35 ribu seberat 500 gram dan kualitas kedua seberat 1 kg dengan harga yang sama. Jangan lupakan pula jeruk kunci yang dijual seharga Rp8 ribu per kg. Jeruk ini istimewa karena ia bisa hadir di gelas dipadukan dengan gula dan air, juga di piring buat kawan bersantap sambal, mi hingga dikucurkan di atas ikan bakar.

"Yang beli kemplang dan oleh-oleh Bangka berkurang, sekarang sudah mulai ada tapi belum seperti dahulu, kami harus terus buka karena ada karyawan yang digaji," ujar Lina, Tionghoa penjual kemplang yang memperkerjakan dua perempuan berkerudung di kios kemplang, getas hingga kerupuk yang semuanya berbahan ikan dan menguarkan aroma sedap itu. 

Plt. Kadisbudpar Bangka Belitung Darlan dalam acara Sosialisasi Cleanliness, Health, Safety and Enviromental Sustainability (CHSE) dalam Memasuki Adaptasi Kebiasaan Baru di Destinasi Pariwisata Provinsi Kepulauan Babel hari itu menyatakan, sejak pandemi, industri pariwisata yang beroperasi di sana, mulai penerbangan, hotel, restoran dan UKM terdampak.

"Jadi, jika sektor pariwisata dari sekarang tidak dihidupkan, bagaimana sektor ekonomi bergerak. Apalagi Babel sangat tergantung pada pariwisata," kata Darlan yang membuka kembali kegiatan pariwisata sejak 1 juli 2020 lalu.

"Kami masuk zona hijau yang artinya salah satu daerah yang aman utk dikunjungi wisatawan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, salah satunya adalah dgn menerapkan CHSE ini. 

Pudin Saepudin, S.ST.Par., MP.Par, Ketua Prodi Administrasi Hotel STP NHI Bandung yang juga Tim Penyusun Buku Panduan CHSE Kemenparekraf 2020 dalam acara sosialisasi itu menegaskan, pada panduan CHSE  dirilis pihaknya, masyarakat juga bisa ikut memantau implementasinya, juga bisa menegur jika terjadi pelanggaran.

Panduan itu di antaranya mengatur operasi hotel yang sprei, sarung bantal, dan selimut diganti setiap hari. Selain itu, barang di kamar tidur dibersihkan dengan disinfektan atau cairan pembersih lain yang aman dan sesuai minimal dua kali sehari serta kamar tidur dibersihkan dengan disinfektan/carian pembersih lain yang aman dan sesuai sebelum tamu datang dan setelah tamu pulang. 

Sementara itu, Oni Yulfian, Direktur Pengembangan Destinasi Regional I MD yang juga menghadiri acara ini menyatakan bahwa di kalangan pelaku wisata, industri hotel terbilang lebih mudah diregulasi dan diawasi dalam implementasi CHSE. Tantangan lebih besar dihadapi oleh daerah tujuan wisata (DTW) yang menangani para pelancong di lapangan serta pihak-pihak lainnya mulai petugas parkir, pedagang makanan, suvenir, penjaga toilet hingga musola.

Untuk itu, sosialisasi akan terus dilakukan, karena DTW adalah salah satu penggerak ekonomi masyarakat di penjuru Nusantara. "Kami juga membagikan petunjuk CHSE, cairan pembersih, pelindung wajah, termometer hingga tempat sampah bagi kelompok sadar wisata (pokdarwis) yang kini mulai menjalankan kegiatan," ucap Oni. (Zat/OL-09)

BERITA TERKAIT