17 September 2020, 08:00 WIB

Hobi Nyinyir, Hati-Hati Serangan Jantung


Galih Agus Saputra | Weekend

SERANGAN jantung hingga saat ini masih menjadi salah satu penyakit yang mematikan di dunia. Di Indonesia, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukan setidaknya, 15 dari 1000 orang, atau sekitar 2.784.064 individu di Indonesia menderita penyakit jantung. Penyebab gangguan kardiovaskular itu pun amat beragam, mulai dari faktor genetik, kualitas udara, pola makan, dan gaya hidup.

Akan tetapi, sebuah penelitian dari University of Tennessee, Amerika Serikat baru-baru ini mengungkapkan, salah satu persoalan yang turut memicu serangan jantung adalah hasrat seseorang untuk menyerang orang lain lewat ucapan menyindir, dimana fenomena seperti ini biasa dikenal dengan sarkasme atau dalam bahasa kekinian disebut nyinyir.

Salah satu penulis makalah penelitian, Tracey Vitori mengatakan permusuhan adalah salah satu bentuk atau ciri yang melekat pada kepribadian seseorang. Selain mencakup perilaku sarkastik, ia juga mengenal sinisme, dimana orang dengan kepribadian seperti ini biasanya mudah kesal, tidak sabar, dan mudah tersinggung.

"Ini bukan hanya kejadian yang berlaku satu kali saja, tetapi menjadi ciri bagaimana seseorang berinteraksi dengan orang lain," katanya, seperti dilansir Dailymail, Selasa, (15/9).

Lebih lanjut, diungkapkan bahwa penelitian itu melibatkan 2.321 penyintas serangan jantung di AS. Tracy dan tim melihat risiko serangan jantung orang yang kerap melontarkan sarkas lebih berbahaya di tahun kedua penelitian. Para peneliti percaya risiko itu sangat mungkin terjadi karena seorang penyintas telah terbebani dengan keadaan emosional yang berangsur-angsur negatif tiap tahun.

Namun, keadaan emosional ternyata bukanlah faktor tunggal yang memicu serangan jantung. Studi itu juga melihat, peserta penelitian banyak yang tidak menjaga kesehatan, dimana mereka cenderung menghabiskan banyak waktu untuk merokok, mengonsumsi alkohol, termasuk tidak menjaga pola makan. Setelah melakukan serangkaian tes yang diikuti peserta selama 24 bulan, para peneliti kemudian menemukan korelasi yang kuat antara keadaan emosional, gaya hidup, dan serangan jantung.

"Orang-orang yang dekat dengan perilaku bermusuhan telah meningkatkan durasi pembekuan, adrenalin, kolesterol, trigliserida (kandungan lemak dalam darah), dan meningkatkan tingkat reaktivitas jantung," kata para ilmuwan, yang mempublikasikan hasil penelitiannya dalam European Journal of Cardiovascular Nursing tersebut. 

Meski begitu, para ilmuwan turut menjelaskan, penelitian sebelumnya telah mengungkapkan bahwa pola pikir optimis  juga punya dampak bagi kesehatan jantung manusia. Menurut mereka, orang yang biasa berpikir positif cenderung lebih suka berolahraga dan berwatak cerah.

Dari penelitian itu, mereka juga percaya jika suasana hati yang gembira dapat mengubah tingkat hormon berbahaya menjadi bermanfaat bagi tubuh. Optimisme, dalam pandangan mereka, mampu mengurangi tingkat adrenalin dan kortisol yang berlebih pada jantung dan tekanan darah manusia.

"Kami tahu bahwa gaya hidup berkaitan dengan prospek serangan jantung pasien dan penelitian kami menunjukkan bahwa memperbaiki perilaku yang biasanya bermusuhan dapat menjadi langkah positif," kata mereka. (M-1)
 

BERITA TERKAIT