16 September 2020, 16:09 WIB

Rantai Pasok Global Guncang, Indonesia Tujuan Investasi Baru


Ihfa Firdausya | Ekonomi

KEBIJAKAN pemerintah Tiongkok dalam menekan penyebaran covid-19 menyebabkan global supply chain terguncang hebat. Seperti diketahui, Tiongkok merupakan negara importir sekaligus eksportir utama bagi banyak negara.

Hal ini membuat banyak perusahaan multinasional mulai merelokasi industrinya dari Tiongkok ke negara-negara Asia lainnya, terutama kawasan ASEAN.

Menurut Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, hal tersebut dapat menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk menggantikan posisi Tiongkok sebagai tujuan investasi baru rantai pasok global.

“Berdasarkan data BKPM, saat ini terdapat 143 perusahaan yang memiliki rencana relokasi investasi ke Indonesia. Di antaranya dari Amerika Serikat, Taiwan, Korea Selatan, Jepang, Hongkong, Thailand, Tiongkok dengan potensi penyerapan tenaga kerja lebih dari 300.000 tenaga kerja,” ungkap Airlangga dalam acara webinar HSBC Economics Forum, Rabu (16/9).

Airlangga mengatakan bahwa pemerintah tengah mempersiapkan berbagai kebijakan untuk mengatasi tantangan eksternal dan internal guna menatap peluang relokasi tersebut.

Antara lain segera menyelesaikan pembahasan RUU Cipta Kerja dengan DPR, menyusun daftar prioritas investasi, dan melakukan pengembangan koridor sepanjang pulau Jawa bagian utara.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menyatakan kepercayaan investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia terlihat dari tingkat penurunan FDI (Foreign Direct Investment) atau Penanaman Modal Asing Langsung.

“Hampir semua lembaga dunia dalam surveinya mengatakan bahwa FDI turun 30-40%. Kita bersyukur Indonesia turunnya tidak lebih dari 10%. Artinya, kepercayaan investor dari hampir semua negara khususnya pada 5 negara terbesar seperti Singapura, Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, menganggap Indonesia masih menjadi salah satu negara tujuan investasi yang sangat positif,” katanya dalam kesempatan yang sama.\

Baca juga : Erick Thohir Optimistis Indonesia Segera Keluar dari Krisis

Data BKPM menyebutkan realisasi investasi pada semester pertama 2020 sebesar Rp402,6 triliun, dengan komposisi penanaman modal dalam negeri Rp207 triliun. Dan penanaman modal asing Rp195,6 triliun.

Kepala Ekonom HSBC untuk ASEAN Joseph Incalcaterra juga mengungkapkan pentingnya Indonesia untuk menarik FDI. Dalam hal ini, Indonesia memiliki keunggulan dibandingkan negara-negara ASEAN, yakni mempunyai sumber daya alam dengan permintaan yang sangat tinggi.

“Indonesia salah satu penyuplai nikel terbesar di dunia . Indonesia punya kekuatan permintaan untuk lebih menguatkan investasi di sana,” ujar Joseph.

Sementara Menteri BUMN Erick Thohir menegaskan bahwa harus ada optimisme agar Indonesia bisa keluar dari krisis ini. Erick menyebut data International Monetary Fund (IMF) memproyeksikan Indonesia akan mendapat pertumbuhan ekonomi yang baik tahun depan.

“Bahkan, pada 2024 kita masuk dalam kategori 5 negara besar (ekonomi dunia),” sebut Erick.

Namun, lanjutnya, hal ini tidak ada artinya jika Indonesia tidak mempersiapkan perbaikan-perbaikan. Erick mengatakan bahwa pemerintah terus melakukan berbagai upaya seperti membangun infrastruktur dan percepatan digitalisasi.

“Ditambah lagi, di bawah kementerian saya (BUMN) kami terus melakukan transformasi agar lebih efisien dan lebih transparan. Kami juga memastikan proyek strategis nasional (PSN) harus dijalankan secara baik,” katanya. (OL-2)

 

BERITA TERKAIT