16 September 2020, 02:05 WIB

Covid-19 Sebabkan 160 Juta Orang Asia Jatuh Miskin


Faustinus Nua | Internasional

BANK Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ ADB) mengungkapkan bahwa pandemi virus korona (Covid-19) dan langkah-langkah penanggulangan yang diperlukan untuk mengakhirinya akan mendorong jutaan orang di Asia ke dalam jurang kemiskinan dan memperlebar ketimpangan di dalam industri dan negara-negara di kawasan Asia-Pasifik.

Asia telah mengalami penurunan kemiskinan yang dramatis karena proporsi produk domestik bruto (PDB) kawasan naik menjadi sepertiga dari ekonomi global dari seperempatnya terjadi selama 15 tahun terakhir.

"Namun, karena Covid-19, pertumbuhan ekonomi menjadi negatif sehingga pendapatan menjadi lebih kecil, dan masyarakat miskin terutama mengalami penurunan pendapatan ini," kata kepala ekonom ADB Yasuyuki Sawada.

"Kami mungkin mengamati sejumlah besar orang yang jatuh di bawah garis kemiskinan menurut penilaian kami, (dengan) lebih dari 160 juta orang di wilayah ini jatuh di bawah garis kemiskinan."

Penghitungan Sawada didasarkan pada ambang kemiskinan internasional sebesar USD3,2 per orang setiap hari. Tanpa pandemi virus korona, jumlah penduduk miskin di Asia akan terus menurun sejalan dengan pengalaman selama dua dekade terakhir.

Jumlah orang dalam kemiskinan, yang didefinisikan hidup dengan tidak lebih dari USD1,90 per hari, akan turun menjadi 114 juta pada akhir tahun 2020, sementara menggunakan USD3,20 sebagai garis kemiskinan, jumlahnya akan turun menjadi 734 juta.

Tetapi virus korona membalikkan tren ini, dengan ADB sekarang memperkirakan jumlah orang miskin di wilayah tersebut kemungkinan akan meningkat menjadi 192 juta pada akhir tahun 2020 menggunakan garis kemiskinan USD1,90, atau menjadi 896 juta dengan menggunakan garis kemiskinan USD3,20.

Ini berarti, tergantung pada definisi kemiskinan, tambahan 78 juta atau 162 juta orang, membalikkan pengurangan kemiskinan yang dicapai selama tiga sampai empat tahun terakhir. Segmen masyarakat yang lebih miskin, termasuk pekerja mandiri di ekonomi informal, lebih rentan terhadap pandemi karena mereka tidak dapat memperoleh penghasilan dengan bekerja dari rumah seperti yang dapat dilakukan oleh pekerja kantoran.

Selain itu, perusahaan dan industri mikro dan kecil, terutama di negara-negara Asia Selatan, juga terkena dampak yang tidak proporsional. Hal itu, disebabkan kendala likuiditas yang dapat mencegah mereka untuk terus beroperasi selama periode lockdown atau ketika operasi mereka ditangguhkan.

"Jadi mau tidak mau (bisnis ini) harus memecat karyawannya. Pekerja miskin, pekerja informal dan usaha kecil paling terpengaruh," kata Sawada.

Ekonomi di seluruh negara berkembang di Asia akan mengalami kontraksi tahun ini untuk pertama kalinya dalam hampir enam dekade. Sekitar tiga perempat dari ekonomi kawasan ini diperkirakan akan mencatat pertumbuhan negatif pada tahun 2020. Pemulihan tahun depan akan berada di bawah proyeksi pra-Covid-19, menunjukkan pemulihan berbentuk L, kata Sawada.

ADB memperkirakan bahwa pertumbuhan produk domestik bruto secara keseluruhan untuk negara berkembang Asia akan menyusut 0,7% tahun ini, menandai pertumbuhan ekonomi negatif pertama sejak 1962. Pertumbuhan diperkirakan akan pulih menjadi 6,8% pada 2021, tetapi ini masih akan meninggalkan PDB tahun depan jauh di bawah ekspektasi sebelum Covid-19.

Dengan demikian, pertumbuhan kawasan akan mengalami pemulihan berbentuk L yang lemah daripada rebound berbentuk V yang kuat. Gambaran di seluruh wilayah beragam, dengan jalur dan kecepatan pemulihan ekonomi bergantung pada keberhasilan mengendalikan pandemi. Secara khusus, dua ekonomi terbesar di kawasan ini menyimpang sebagai awal pemulihan di Tiongkok kontras dengan kerapuhan yang berlanjut di India.

Tiongkok mengatasi wabah domestiknya dengan relatif cepat, sedangkan wabah di India telah meningkat sejak April, menyebar dengan cepat dari kota ke daerah pedesaan. ADB menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Tiongkok tahun ini menjadi 1,8% dari sebelumnya 2,3% karena pemulihan yang lebih lambat dari yang diharapkan, meskipun akan naik 7,7% pada 2021. Namun, PDB India diperkirakan turun 9% pada 2020 dan naik 8% pada 2021.

Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan tetap menjadi risiko penurunan terbesar bagi prospek pertumbuhan kawasan ini tahun ini dan tahun depan. Risiko negatif lainnya datang dari ketegangan geopolitik, termasuk eskalasi konflik perdagangan dan teknologi antara Amerika Serikat dan Tiongkok, serta kerentanan finansial yang dapat diperburuk oleh pandemi yang berkepanjangan.

Meskipun AS dan Tiongkok telah menegaskan kembali komitmen mereka terhadap kesepakatan perdagangan fase satu, penegakan tarif sebelumnya tetap berlaku. Selain itu, Tiongkok hanya memenuhi 48% dari target pembelian kesepakatan fase satu sejak Juli dan kesepakatan fase kedua tentang reformasi struktural tampaknya tidak mungkin terjadi tahun ini.

"Jadi gesekan AS-Tiongkok tidak hanya pada perdagangan tetapi juga pada teknologi tampaknya agak mengkhawatirkan. Ini adalah elemen lain yang memiringkan risiko ke sisi negatif bagi ekonomi Asia-Pasifik," tutupnya. (SCMP/OL-13)

BERITA TERKAIT