16 September 2020, 02:15 WIB

Potensi Digital Capai US$133 M


Fetry Wuryasti | Ekonomi

MENTERI Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut potensi ekonomi digital di Indonesia mencapai US$133 miliar (Rp1.972 triliun dengan kurs Rp14 ribu per US$) sehingga pemerintah akan terus mendorong transformasi digital.

"Potensi yang bisa tersedia di Indonesia di sektor digital sebesar US$133 miliar dan untuk ASEAN US$300 miliar. Karena itu, revolusi industri 4.0 terus didorong," katanya dalam sebuah diskusi daring, kemarin.

Ia menjelaskan Indonesia punya modal cukup besar dalam melakukan transformasi digital dan merealisasikan potensi tersebut karena terdapat 180 juta penduduk yang mampu mengakses internet.

Kemudian dari 180 juta penduduk itu, sebanyak 150 juta orang merupakan pengguna internet aktif dan 105 juta orang di antaranya pengguna layanan daring.

Tak hanya itu, ia menjelaskan dari total 83.218 desa, terdapat 70.670 desa atau 84,92% yang menerima atau dapat mengakses layanan jaringan 4G.

"Sebanyak 32% dari populasi kita juga merupakan generasi Y atau yang berumur 20 tahun sampai 39 tahun," ujar Airlangga.

Ia memastikan pemerintah akan terus mendorong pengembangan infrastruktur digital seperti perluasan jaringan 4G ke pada 12.548 desa yang belum terjangkau. "Terutama program 3T, yaitu tertinggal, terdepan, dan terluar, ada 9.000 desa," ujarnya.

Sejalan dengan itu, satelit multifungsi Satria juga dipastikan akan mulai beroperasi pada 2023 sehingga diharapkan mampu menjadi penyambung 150 ribu titik dari sekolah, pemda, fasilitas kesehatan, dan kementerian/lembaga.

Budaya digital

Direktur Bisnis dan Jaringan Bank Mandiri Aquarius Rudiyanto mengatakan banknya terus memperkuat lini layanan dan produk perbankan digital. Hal itu bertujuan meningkatkan pemanfaatan dan membudayakan kebiasaan bertransaksi secara daring di masyarakat, terutama di masa pandemi covid-19.

"Hasilnya, di Juli 2020, Bank Mandiri mencatat adanya lebih dari 4,7 juta user dan e-channel yang telah terintegrasi dengan sistem pembayaran digital Bank Mandiri, dengan jumlah transaksi sebanyak 114,4 juta senilai Rp129,6 triliun," ujarnya, kemarin.

Ia menyatakan inisiatif pengembangan layanan perbankan digital itu menjadi salah satu bentuk dukungan perseroan kepada agenda pemulihan ekonomi nasional dan lokal.

"Kondisi luar biasa akibat pandemi ini telah memaksa seluruh industri berinovasi dalam proses usaha mereka untuk bisa bertahan. Karena itu, kami mengembangkan layanan perbankan digital ini tidak hanya untuk mendukung bisnis perseroan, tetapi juga untuk mendukung kebutuhan inovasi para pelaku usaha," kata Aquarius.

Dia menambahkan, inisiatif digitalisasi layanan perbankan itu juga sejalan dengan visi Bank Mandiri untuk menjadi mitra finansial pilihan utama masyarakat Indonesia.

"Dalam mengimplementasi inisiatif ini, kami tentu akan mengacu pada kearifan lokal agar dapat mendukung pengembangan industri potensial di tiap wilayah," ujarnya. (Ant/RO/E-2)

BERITA TERKAIT