16 September 2020, 04:20 WIB

Covid-19 Disebut Kegagalan Kolektif


MI | Internasional

DEWAN Pemantau Kesiapsiagaan Global, badan internasional yang dibentuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Bank Dunia, mengatakan penyebaran covid-19 sebagai kegagalan kolektif.

“(Covid-19) adalah kegagalan kolektif untuk menangani pencegahan, kesiapsiagaan, dan tanggapan secara serius,” kata kelompok independen itu dalam laporan berjudul A World in Disorder yang dirilis, kemarin.

Dewan yang dibentuk pada 2018 untuk memantau kesiapan menghadapi keadaan darurat kesehatan masyarakat itu, lalu menyerukan reformasi besar-besaran untuk mengatasi kegagalan yang menyebabkan krisis pandemi covid-19.

Dewan tersebut pernah mengungkapkan di tahun lalu bahwa dunia berisiko terkena pandemi pernapasan. Mereka lalu menyarankan dilakukannya perubahan penting dalam pola pikir untuk mengakhiri siklus panik dan pengabaian dalam menanggapi keadaan darurat kesehatan.

“Kami memperingatkan bahwa dunia tidak siap menghadapi pandemi seperti itu. Secara tragis dan dahsyat kami, telah melihat ketakutan terburuk kami terwujud. Dampak covid-19 bahkan lebih buruk dari yang kami perkirakan. Tindakan yang kami serukan tahun lalu masih belum dilakukan. Dunia tetap rentan terhadap wabah di masa depan,” kata Ketua Dewan, Gro Harlem Brundtland, yang juga merupakan mantan Direktur Jenderal WHO.

Tanpa menyebutkan nama, kelompok tersebut menunjukkan kegagalan para pemimpin untuk mengambil tindakan tegas sejak dini dan mendengarkan sains dalam tanggapan terhadap krisis. Brundtland juga mengatakan, ketegangan politik ialah hambatan utama untuk mengatasi pandemi. 


Nol kasus impor

Hong Kong, kemarin, mencatat nol kasus baru infeksi covid-19 untuk kali pertama sejak gelombang ketiga dimulai pada awal Juli. Jumlah total infeksi yang dikonfirmasi di kota semiotonom itu menjadi 4.975 dan total 101 kematian terkait.

Sementara itu, nol kematian dalam dua bulan terakhir terjadi di Australia. Laporan itu muncul sehari setelah penguncian di Melbourne dilonggarkan dan memungkinkan warga menghabiskan satu jam ekstra sehari untuk berolahraga di luar rumah serta mengunjungi temanteman mereka.

Di Tiongkok, pemerintah telah menutup Kota Ruili di wilayah barat daya akibat dua warga Myanmar di kota itu terkena covid-19. Sekitar 200 ribu penduduk Ruili akan menjalani tes covid-19. Kota tersebut memang berbatasan dengan Myanmar. (AFP/Van/Hym/X-11)
 

BERITA TERKAIT