16 September 2020, 03:00 WIB

Paradigma Baru Sukses Cegah Karhutla 2020


MI | Humaniora

UPAYA terpadu dan berkelanjutan yang diinisiasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan seluruh pemangku kepentingan terbukti ampuh dalam menanggulangi dan mengurangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berulang pada 2020.

Di acara Media Briefing: Pengendalian Karhutla di Tingkat Tapak yang dilaksanakan secara virtual, kemarin, terungkap keberhasilan pencegahan karhutla di Tanah Air selain karena faktor alam yang mendukung di 2020, yakni adanya pergeseran paradigma. 

“Berbeda dari pola sebelumnya, sejak 2016. Paradigma baru lebih mengedepankan upaya pencegahan, melibatkan masyarakat, early warning and detection system, early respons dan pengembangan instrumen,” ujar Kasubdit Penanggulangan Karhutla, Radian Bagiyono.

Dijelaskan ada tiga komponen penting dalam pengendalian karhutla yaitu pencegahan, penanggulangan, dan penanganan paska karhutla. Radian mencontohkan, operasi teknologi modifikasi cuaca (TMC) yang pada awalnya dilakukan untuk proses penanggulangan atau pemadaman, pada tahun ini untuk upaya pencegahan.

Hal itu bertujuan memperpanjang musim hujan dengan cara menginduksi awan-awan yang potensial untuk menambah curah hujan di wilayah yang kekeringan atau yang berisiko terjadi karhutla.

“Data hotspot satelit NOAA dan TERRA/AQUA (NASA) dari 1 Januari-14 September 2019 dibandingkan periode sama tahun 2020 menunjukkan penurunan yang signifi kan,” imbuh Radian.

Di samping kondisi iklim yang relatif lembab disebabkan kemarau 2020, menurut BMKG merupakan kemarau basah, hal ini juga terjadi karena upaya masif yang dilakukan satgas di daerah yang sudah mulai bergerak sejak awal tahun. Hasilnya, hotspot bisa diturunkan sedemikian rupa, hampir 90%.

Pada kesempatan yang sama, Kabid Penanganan Darurat Badan Penanganan Bencana Daerah, Provinsi Sumatra Selatan Ansori menyampaikan pihaknya telah memproses audit terhadap perusahaan-perusahaan mengenai kesiapan mereka dalam pengendalian kahutla.

“Hasil audit menunjukkan sekitar 66% perusahaan masuk kategori yang sangat baik, artinya memiliki personel dan peralatan yang bagus, dan 34% masuk kriteria baik,” ujarnya.

Koordinator Daops Manggala Agni Sumatra Selatan Tri Prayogi menambahkan turunnya jumlah karhutla di tahun ini merupakan hasil dari upaya maksimal yang dilakukan satgas dan juga kondisi lahan gambut masih cukup basah. (Ata/H-1)
 


 

BERITA TERKAIT