15 September 2020, 21:27 WIB

Sport Science Bantu Pengambangan Atlet agar Lebih Kompetitif


Dero Iqbal Mahendera | Olahraga

PENERAPAN ilmu pengetahuan dan teknologi olahraga (sport science) sudah menjadi keniscayaan dalam pengembangan olahraga prestasi modern, khususnya dalam pengembangan atlet.

"Sport science sangat penting dan berperan di bulu tangkis. Semua aspek penyiapan atlet selalu berhubungan dengan sport science. Mulai dari aspek fisik, fisioteraphyst, nutrisi, psikology, medical, performance analisis dan lainnya," kata Achmad Budiharto, Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangks Seluruh Indonesia (PP PBSI) dihubungi Selasa (15/9).

Senada dengan itu Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI Susy Susanti menyebutkan penggunaan sport science membantu dalam pembinaan dan pengembangan atlet. Susy menyebut dengan sport science dapat membantu menganalisa lebih banyak dan efektif bagi pembinaan.

Misalnya untuk membantu latihan driling tidak perlu menggunakan orang lagi tetapi telah menggunakan alat. Hal lainnya juga dapat membantu dalam hal pengukuran segi fisik seperti masa otot, kekuatan otot berdasarkan sport science.

"Sport science juga dapat digunakan untuk menyusun strategi, seperti pengaturan nutrisi, untuk mengukur kadar asupannya, dan masuk kedalam strategi, serta nonteknis sebagai pendukung untuk prestasi," terang Susy.

Baca juga : BWF Tunda Kejuaraan Piala Thomas dan Uber 2020

Hal lainnya juga seperti persiapan menuju olimpiade , berapa lama persiapannya, pertandingan apa saja yang harus dilalui agar masuk kualifikasi. Penerapan sport science juga diterapkan dalam hal pelatihan fisik seperti untuk membantu pemulihan seperti alat kolam es, alat pelemasan otot maupun mesin mesin firnes yang lebih moderen sehingga bisa mengurangi cidera.

Hal lainnya yang dapat bermanfaat adalah membuat standar indikator yang dapat dijadikan acuan dalam pengembangan atlet kedepannya. Misalnya seperti tangan kevin yang kekuatannya sebagai juara dunia itu kekuatan masa ototnya seperti apa. Artinya dibuat standar agar untuk menciptakan atlet seperti kevin massa ototnya harus sekian.

"Jadi memang mendukung dan membantu dari sisi berbeda. sedangkan untuk cara dan gaya pukulan itu tidak bisa karena itu menyangkut feeling pemain tidak mungkin disamakan. Tipe permainan pun tidak bisa secara sport science," terang Susy.

Ia pun menyebut secara pengetahuan, SDM Indonesia sudah cukup memahami sport science, Namun yang menjadi problem adalah ketersediaan alatnya, mengingat umumnya harga alat sport science cukup mahal sehingga memang membutuhkan dukungan untuk memperolehnya.

"Mungkin kita masih kurang karena memang keterbatasan dana, kita tidak tradisional sekali karena kita sudah memanfaatkan banyak sport science, tetapi memang ini masih bisa lebih ditingkatkan," pungkas Susy. (OL-7)

BERITA TERKAIT