15 September 2020, 14:05 WIB

Wapres: Hanya 10% Penduduk Mengenyam Pendidikan Tinggi


Emir Chairullah | Humaniora

Wakil Presiden (Wapres) Ma'ruf Amin berharap para mahasiswa di perguruan tinggi tidak menyia-nyiakan kesempatan menikmati pendidikan tinggi. Pasalnya, jumlah warga negara di Indonesia yang punya kesempatan untuk mengenyam pendidikan masih terbatas, hanya 10%. 

“Hampir 90% sisanya, sama sekali tidak menikmati pendidikan tinggi seperti anda sekalian,” katanya saat menghadiri acara Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Islam Nusantara (UNINUS) Bandung yang diselenggarakan secara virtual, Selasa (15/9).

Berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS-BPS) per Februari 2020, dari 137,91 juta penduduk usia 15 tahun ke atas yang bekerja, hanya sekitar 14,2 juta atau hanya 10,3% yang berkesempatan menikmati pendidikan tinggi. “Karena itu saya menitipkan pesan. Jangan sia-siakan kesempatan yang diperoleh untuk menikmati pendidikan tinggi," ujar Ma'ruf.

Baca juga : Erick Thohir : Pilkada Jangan Munculkan Gelombang Baru Covid-19

Ma’ruf menjelaskan, masyarakat yang dapat menikmati pendidikan tinggi di seluruh perguruan tinggi merupakan kelompok elite dalam struktur masyarakat Indonesia. "Kesempatan ini merupakan karunia Allah. Bentuk rasa syukur Anda atas karunia tersebut adalah dengan belajar dan bekerja keras agar dapat menyelesaikan pendidikan tepat waktu dengan hasil memuaskan," jelasnya.

Pada kesempatan itu, Ma’ruf meminta UNINUS Bandung yang juga merupakan sebagai universitas binaan Nahdlatul Ulama (NU), dapat mengikuti paradigma NU sebagai organisasi perubahan. "Nahdlatul Ulama adalah jam’iyatul islahih, organisasi perubahan," ungkapnya.

Lebih lanjut, Wapres menjelaskan NU awalnya menganut dua paradigma yaitu menjaga tradisi lama yang baik (al muhafadzah alal qadimisshalih) dan mengambil yang baru yang lebih baik (wal akhdu biljadidil ashlah), namun saat ini telah dilengkapi olehnya dengan satu paradigma baru yaitu melakukan perubahan ke arah yang lebih baik secara berkelanjutan (al ishlah ila ma huwal ishlah tsummal ashlah fal ashlah). 

"Saya tambahkan dengan satu paradigma lagi yaitu al ishlah ila ma huwal ishlah tsummal ashlah fal ashlah, harus melakukan perubahan ke arah yang lebih baik, ke arah yang lebih baik secara berkelanjutan, secara sustainable yang tidak pernah berhenti," papar Wapres.

Wapres berharap, dengan mengikuti paradigma NU tersebut, UNINUS dapat menjadi pusat perbaikan dan perubahan. "Saya berharap bahwa kampus UNINUS itu menjadi salah satu pusat perbaikan (markazul islah) dan juga sekaligus menjadi pusat penyiapan tokoh-tokoh perubahan (markaz lia’dadi rijalil ishlah)," harapnya. (P-5)

BERITA TERKAIT