15 September 2020, 13:35 WIB

Ini Saran Ketua IDI Bertransportasi Umum di Tengah Pandemi


Putri Anisa Yuliani | Megapolitan

Bertransportasi umum di tengah pandemi covid-19 haruslah dilakukan dengan bijak. Itulah yang disampaikan Ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng Muhammad Faqih dalam webinar bertajuk 'Bijak Bertransportasi di Tengah Pandemi Covid-19' hari ini.

Daeng mengatakan bijak artinya masyarakat menyadari bahwa saat ini perilaku hidup bersih dan sehat harus benar-benar dilakukan dan dibarengi dengan protokol kesehatan. Daeng menegaskan masyarakat juga harus memastikan dirinya dalam kondisi sehat saat hendak bertransportasi umum.

"Pastikan diri sendiri sehat. Kalau sudah agak merasa meriang, demam, ada gejala batuk, pilek, lebih baik menahan diri untuk berada di rumah. Karena itu menunjukkan bahwa daya tahan tubuh kita sedang menurun. Daripada nanti menulari orang lain atau tertular penyakit yang lebih parah semisal covid-19," tegas Daeng.

Selain itu, masyarakat yang menjadi penumpang harus terus menjaga protokol kesehatan, yaitu memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

Baca juga: Operasi Yustisi akan Libatkan Tokoh dan Komunitas Masyarakat

Utamakan tidak memegang benda apa pun dalam perjalanan tersebut. Bila terpaksa seperti memegang pegangan di kereta karena menghindari terjatuh akibat guncangan, harus diingat bahwa tangan yang memegang benda tersebut untuk tidak memegang area-area yang menjadi penularan virus covid-19.

"Seperti mata, hidung, dan mulut. Tangan kita ini kan sangat terampil ya bisa ke mana-mana. Paling aman adalah mengantongi hand sanitizer. Jadi, selepas turun dari kereta langsung pakai hand sanitizer. Keluar dari stasiun seusai tap out tiket, segera cuci tangan atau memakai hand sanitizer," jelas Daeng.

Selain itu, Daeng juga menyebut masyarakat harus memahami di tengah kondisi pandemi covid-19 sebaiknya tidak bercengkrama atau bercakap-cakap dengan teman dalam jarak dekat.

"Misalnya pun ketemu dengan teman di stasiun, jangan satu gerbong karena akan memancing untuk mengobrol. Juga misalnya teman satu kantor biasanya selalu satu taksi atau satu kendaraan ketika hendak pergi, maka kali ini sebisa mungkin jangan satu kendaraan. Kita kadang tidak sadar ketika bersama teman dekat, teman sejawat lalu kita bercakap-cakap sampai heboh," terangnya.

Terakhir, Daeng mengingatkan bahwa untuk menghindari penularan covid-19, peran kedua belah pihak yakni pengelola angkutan umum dan masyarakat yang saling bersinergi sangat penting untuk menghindari penularan virus cocid-19. Saat ini, seluruh pengelola transportasi sudah tegas dalam protokol kesehatan. Ia berharap ketegasan itu terus dijaga secara konsisten.

"Operator juga harus konsisten. Tempat cuci tangan air dan sabunnya harus tersedia. Hand sanitizer juga harus tersedia. Operator juga harus tegas. Kalau ada calon penumpang tak pakai masker harus ditolak. Kedua-duanya, penumpang dan operator harus saling konsisten," tandasnya. (OL-14)

BERITA TERKAIT