15 September 2020, 01:25 WIB

Gerak Cepat Pulihkan Properti


GANA BUANA | Ekonomi

GERAK cepat pemerintah terhadap sejumlah kebijakan sangat diperlukan untuk memulihkan sektor properti yang belakangan ini masih mengalami pelambatan penjualan.

Terlebih, sejak awal 2020 industri realestat digempur pandemi covid-19.“Gerak cepat pemerintah sangat diperlukan. Permudah perizinan. Kami tentu tidak berharap terjadi resesi.

Pengembang harus kerja sangat keras agar bertahan. Akibat pandemi, kondisi sebagian besar anggota terutama di Jakarta makin melemah akibat penurunan aktivitas ekonomi.

Tingkat penjualan drop, sedangkan biaya yang harus dikeluarkan tetap,” ujar Ketua DPD Realestat Indonesia (REI) DKI Jakarta Arvin F Iskandar dalam siaran persnya, kemarin, menyikapi hasil survei DPD REI Jakarta terhadap pengembang di Jakarta, Bogor, Depok, dan Tangerang.Arvin menjelaskan saat ini hampir semua subsektor real-estat terdampak.

Beberapa anggota REI DKI Jakarta juga kesulitan meminta rescheduling utang ke perbankkan. Untuk jenis residensial, ia mengaku mendapat banyak laporan dari anggota REI jika semakin banyak pengembang yang susah melakukan akad kredit terkait persyaratan perbankan.

Beragam strategi untuk ber-tahan dilakukan. Di antaranya menekan biaya operasional semaksimal mungkin, gimmix marketing dan pemberian subsidi bunga oleh pengembang.

Namun, itu saja tidak cukup. Arvin berharap Pemprov DKI Jakarta menggairahkan bisnis realestat dengan memberikan keringanan pajak hotel dan restoran dalam menghadapi pandemi covid-19.

Di antaranya pemberian diskon 50% PBB untuk 2019, penundaan kenaikan NJOP 2020-2021 tanpa denda, po-tongan pajak reklame 50%, dan PPh serta pajak hotel tidak diberlakukan karena selama 5 bulan banyak hotel dan bisnis ritel yang tutup tidak operasi-onal. Ia juga meminta tarif PLN dan gas diberikan diskon.

“Kami meminta otoritas berwenang mempertimbangkan stimulus agar jangan sampai pengembang mengalami ke-sulitan membayar kredit. Beri kami ruang gerak dulu minimum sampai akhir tahun,” harap Arvin.

Head of Research Savills Indonesia Anton Sitorus mengatakan scara umum bisnis properti diproyeksikan masih turun hingga akhir 2020 dan baru meningkat pada semester kedua 2021 apabila pembuatan vaksin covid-19 berjalan sesuai rencana pemerintah.Ia menyarakan pengembang untuk menata kembali proyek yang cocok dengan kondisi pasar serta menyiapkan stra-tegi pemasaran dengan sistem daring.

“Sambil menunggu momen yang tepat, perusahaan bisa memikirkan inovasi, terobos-an, desain produk, desain bangunan, strategi pemasaran, hingga strategi pembayaran konsumen. Ketika pandemi selesai, siapa cepat dan lebih dahulu melaksanakan terobos-an akan di atas angin,” tutup Anton.

Mulai membaik

Arvin memaparkan berda-sarkan hasil riset REI DKI Ja-karta di wilayah Jabodetabek, pada akhir 2019 sektor pen-jualan properti mulai membaik. Sebanyak 73% pengem-bang menyatakan kondisi realestat sama atau bahkan lebih baik dari tahun sebelumnya.

Sebanyak 61% pengembang menyatakan penjualan produk 2019 sama, atau bahkan lebih baik dari 2018.Dari sisi regulasi dan du-kungan pembiayaan juga sama. Menurut dia, seba-nyak 86,5% menyatakan suku bunga kredit memberikan dampak lebih baik bagi iklim usaha.

Sebanyak 79,3% me-nyatakan pemerintah sudah cukup baik, bahkan sangat baik dalam menyediakan in-frastruktur.Wakil Ketua Bidang Riset dan Hubungan Luar Negeri DPD REI DKI Jakarta Chandra Rambey menambahkan, riset dan survei berkala setiap tahun itu merupakan salah satu program kerja strategis REI DKI Jakarta.

Survei dilakukan pada kuartal pertama 2020 untuk memotret perkembangan industri realestat pada tahun sebelumnya. “Salah satu tujuan riset dan survei ini untuk memberikan gambaran sekaligus memu-dahkan pelaku usaha dan kon-sumen dalam mengambil ke-putusan,” pungkasnya. (S-3)

BERITA TERKAIT