15 September 2020, 03:15 WIB

Peran Indonesia untuk Palestina


Hasibullah Satrawi Pengamat politik Timur Tengah dan Dunia Islam | Opini

SUDAH jatuh masih tertimpa tangga pula, demikian kata pepatah. Kurang lebih ini pula yang dialami Palestina dalam beberapa waktu terakhir. Di saat Palestina berjuang sekeras tenaga untuk tetap berdiri tegak menghadapi politik aneksasi Israel, Uni Emirat Arab (UEA) justru menjalin hubungan diplomatik dengan negara yang acap menjadi musuh bersama bagi bangsa-bangsa Arab itu.

Dalam perkembangan terbaru, Bahrain mengikuti langkah UEA menormalisasi hubungan diplomatik dengan negara yang kerap mendapatkan dukungan penuh dari Amerika Serikat (AS) itu.

Sudah pasti, Israel menyambut baik sikap UEA dan Bahrain di atas. Adapun Palestina mengecam keras keputusan tersebut. Bahkan Palestina menyebut keputusan UEA dan Bahrain di atas sebagai pengkhianatan atas Palestina dan Al-Quds.

Dalam beberapa tahun terakhir, Israel acap melakukan kebijakan sepihak yang sangat merugikan Palestina. Kebijakan terakhir Israel yang sangat merugikan Palestina ialah upaya aneksasi sebagian dari Tepi Barat.

Kebijakan ini banyak menuai protes dari pelbagai macam pihak di dunia, termasuk Indonesia. Bahkan sebagian anggota Kongres Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat diberitakan melakukan langkahlangkah politik untuk menghentikan rencana sepihak Israel tersebut (Aljazeera.net, 03/07/2020).


Sibuk sendiri

Pertanyaannya ialah, kenapa negara- negara di Timur Tengah tidak kompak dalam membela Palestina, sekaligus menghadapi Israel? Kenapa belakangan Palestina tampak seperti berjuang sendiri? Minimal ada dua hal yang bisa menjawab pertanyaan di atas.

Pertama, pragmatisme elite sebagian negara Arab. Dengan kata lain, masyarakat Timur Tengah sesungguhnya tak pernah kehilangan sikap kritisnya terhadap Israel yang kerap dianggap sebagai musuh utama. Namun, suara keras masyarakat acap terhalangi oleh pilihan politik pragmatis sebagian elitenya, yang tak jarang justru menjalin hubungan dengan Israel. Baik hubungan yang bersifat terbuka maupun hubungan yang bersifat diam-diam.

Sikap Uni Emirat Arab dan Bahrain mutakhir bisa dijadikan sebagai salah satu contoh dari yang telah disampaikan di atas. Negara kaya minyak di Kawasan Teluk itu belakangan sering menjadi ‘buah bibir’ di Timur Tengah, karena hubungannya dengan Israel yang berakibat pada memburuknya hubungan negara tersebut dengan Palestina.

Kedua, kondisi internal sebagian negara di Timur Tengah yang jauh dari kata baik. Sebagian negara terjebak dengan persoalan perang saudara yang tak kunjung selesai, seperti terjadi di Suriah, Yaman dan Libia. Sementara, sebagian negara yang lain terjebak dengan persoalan ekonomi maupun instabilitas politik seperti dialami Libanon, Mesir, dan Yordania pada tahap tertentu.

Semenjak dilanda Arab Spring, sebagian negara Arab justru dalam keadaan yang tidak menentu. Bahkan, pada tingkat tertentu, negara tersebut jauh lebih baik sebelum Arab Spring.

Kondisi internal yang jauh dari keadaan baik sebagaimana di atas telah membuat sebagian negara Arab menjadi sibuk dengan urusan masing-masing. Hingga akhirnya berdampak atas menurunnya perhatian mereka terhadap persoalan Palestina-Israel. Sebaliknya, Israel belakangan justru semakin agresif untuk mempertebal keuntungan politiknya.


Peran Indonesia

Dalam kondisi Timur Tengah seperti di atas, Indonesia menjadi harapan besar bagi Palestina. Dibanding negara lain yang sama-sama berpenduduk mayoritas muslim, dukungan dari masyarakat Indonesia terhadap Palestina tidak kalah besar (untuk tidak mengatakan yang terbesar).

Indonesia juga cukup stabil secara ekonomi dan politik. Terlebih lagi Indonesia memiliki hubungan baik dengan sejumlah negara berpengaruh di tingkat global yang bisa digunakan dalam upaya menyelesaikan konflik Palestina-Israel secara menyeluruh dan permanen. Tentu ada hal-hal lebih yang harus dilakukan Indonesia untuk meningkatkan kapasitas sikap politik luar negeri, dari sekadar hanya pernyataan politik di atas kertas.

Dengan kata lain, hubungan baik Indonesia dengan negara-negara berpengaruh di tingkat global (juga dalam konteks Palestina-Israel) harus ditingkatkan ke tahap yang lebih aktif, dan strategis, untuk meyakinkan para pihak bahwa penyelesaian konflik Palestina-Israel adalah salah satu pintu utama, menuju terbentuknya tatanan kehidupan global yang lebih damai, aman dan bersih, dari penjajahan satu pihak atas pihak lain.

Pada waktu yang bersamaan, Indonesia harus mampu mendorong dan menyatukan faksi-faksi di internal Palestina, khususnya antara Faksi Hamas dan Faksi Fatah. Karena, hampir tak ada gunanya dukungan besar yang datang dari pihak luar bila ternyata pihak internal Palestina sendiri tidak bersatu.

Melalui dua langkah di tingkat global dan di tingkat internal Palestina sebagaimana di atas, Indonesia bisa membumikan solusi dua negara bagi kedua belah pihak Israel dan Palestina. Hingga terwujud kehidupan dua negara bertetangga dengan sikap saling mengakui dan saling menghormati eksistensi masing-masing.

Hal yang tak kalah penting, dua langkah di atas menjadi prasyarat diplomatik untuk mencapai apa yang dalam Pembukaan UU Dasar 1945 disebut dengan istilah kemerdekaan sebagai hak segala bangsa. Indonesia yang merdeka diharapkan mampu menjalankan tugas ini sebagai bentuk kontribusi nyata dalam menjaga ketertiban dunia.

BERITA TERKAIT