15 September 2020, 03:10 WIB

Antisipasi The Lost Generation


Ali Khomsan Guru Besar Pangan dan Gizi IPB, Ketua Klaster Stunting Asosiasi Profesor Indonesia | Opini

SMERU Research Institute pada Agustus 2020 merilis catatan kebijakan mereka yang berjudul Mengantisipasi Potensi Dampak Krisis akibat Pandemi Covid-19 terhadap Sektor Ketenagakerjaan (Kompas.com 11/8/2020). Dampak ekonomi Covid- 19 memang sungguh luar biasa dan berdampak besar pada kesejahteraan rakyat Indonesia.

Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) per 7 April 2020, akibat pandemi covid- 19, tercatat sebanyak 39.977 perusahaan di sektor formal yang memilih merumahkan dan melakukan PHK terhadap pekerjanya.

Total ada 1.010.579 orang pekerja yang terkena dampak ini. Meski, pemerintah kemudian memberikan bantuan sembako ataupun bantuan langsung tunai. Namun, ekonomi keluarga bagi pekerjapekerja yang terdampak akan tetap sulit pulih.

Tim riset SMERU kemudian melakukan simulasi penghitungan peningkatan pengangguran secara total. Hasil simulasi menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terbuka (TPT) meningkat dari 4,99% pada Februari 2020 (data BPS) menjadi sekitar 6,17%–6,65% pada Maret 2020.

Persentase ini setara dengan peningkatan jumlah pengurangan penyerapan tenaga kerja yang mencapai sekitar 1,6 juta hingga 2,3 juta orang. Banyak sarjana perguruan tinggi yang lulus di tengah pandemi covid-19 kini masih menganggur dan mereka tetap menjadi tanggungan orangtuanya, karena sulit mencari kerja.

Dikhawatirkan, morat-maritnya ekonomi keluarga dapat berakibat buruk bagi tumbuh-kembang anak balita. Disadari bahwa anak balita merupakan salah satu kelompok the vulnerable group. Mereka memerlukan asupan gizi yang cukup dan berkualitas untuk mendukung kesehatan mereka.

Di bulan Agustus 2020 seluruh posyandu di Indonesia baru saja selesai melakukan pengukuran berat dan tinggi badan anak balita (disebut ukuran antropometri). Dua indikator ini setelah dikoreksi dengan umur menjadi ukuran status gizi anak, sehingga berat badan menurut umur dapat digunakan untuk menghitung jumlah anak gizi kurang atau gizi buruk, dan tinggi badan menurut umur dapat dipakai untuk menghitung anak stunting (pendek). Diharapkan, data antropometri ini bisa mengungkap dampak covid-19 terhadap status gizi anak.

Penimbangan balita secara serentak rutin dilakukan pada bulan Februari dan Agustus. Data status gizi anak bulan Februari 2020 dapat dijadikan data baseline (data pembanding), dan, data status gizi bulan Agustus 2020 dapat menjadi data yang menunjukkan akibat pandemi covid-19. Perbedaan prevalensi stunting dan gizi kurang/gizi buruk antara Februari dan Agustus menunjukkan dampak covid- 19 terhadap kualitas anak Indonesia.

MI/Seno

Ilustrasi MI


 

Seribu hari pertama kehidupan

Hasil Riskesdas 2018 telah berhasil memotret keberhasilan pemerintah dalam pembangunan gizi. Data 2013 dan 2018 menunjukkan bahwa prevalensi gizi buruk turun dari 5,7% menjadi 3,9%, gizi kurang juga turun meski sangat sedikit yaitu dari 13,9% menjadi 13,8%.

Hasil yang spektakuler ditunjukkan angka stunting yang turun sangat signifi kan dari 37,2% menjadi 30,8%. Kabar baik lainnya ialah prevalensi anak gemuk turun dari 11,9% menjadi 8,0%.

Diketahui, bahwa stunting berkaitan erat dengan kecerdasan anak. Negara-negara yang mampu membebaskan masyarakatnya dari problem stunting akan berpeluang untuk mencetak generasi cerdas. Karena, stunting ialah masalah gizi kronis yang tentu menjadi pembatas perkembangan otak anak.

Dengan prevalensi stunting yang semakin menurun, Indonesia bisa berharap banyak bahwa ge nerasi muda yang akan datang akan menjadi aset penting untuk membangun bangsa.

Namun, ketika pandemi covid-19 menghantam berbagai sektor kehidupan, harapan memperbaiki kualitas hidup anak Indonesia menjadi berantakan.

Kini kita dihadapkan kembali pada ancaman the lost generation (generasi yang hilang) sama seperti ketika banyak negara mengalami krisis ekonomi tahun 1998.

Penyebab masalah gizi kurang bersifat kompleks, baik karena tekanan ekonomi, kurang pangan, sanitasi buruk, rendahnya pendidikan, budaya (tabu mengkonsumsi makanan tertentu) dll. Tekanan ekonomi terjadi karena kemiskinan, pengangguran, PHK, dan tentu saja keterbatasan gerak karena covid-19 mengharuskan sebagian pemerintah daerah mengeluarkan kebijakan pembatasan sektor ekonomi.

Prioritas kesehatan menjadi pertimbangan penting karena kondisi sehat menjadi prasyarat untuk bertumbuhnya ekonomi. Apalagi ketika fasilitas kesehatan semakin terbebani dengan banyaknya korban covid-19 yang harus dirawat.

Salah satu strategi pengentasan masalah gizi yang mendapat perhatian ialah bagaimana mengisi 1.000 hari pertama kehidupan (1.000 HPK) seorang anak. Seribu hari pertama kehidupan merupakan awal yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan manusia selanjutnya. Pemenuhan gizi pada periode tersebut mutlak harus mencukupi baik dari segi jumlah maupun mutu.

Kelalaian pada 1.000 HPK akan berdampak pada munculnya the lost generation. Pertumbuhan fisik anak akan terhambat, lahir generasi stunting, dan kecerdasan yang tidak optimal. Apabila hal ini menimpa anakanak Indonesia, kita sesungguhnya sedang menyongsong generasi yang tidak bisa berpikir tinggi (higher order thinking skills). Akibatnya, kita akan semakin tertinggal dibandingkan bangsa-bangsa lain.

The point of no return merupakan istilah yang menggambarkan bahwa anak tidak akan mendapatkan masa keemasan tumbuh-kembangnya bila pada periode 1.000 HPK mengalami gizi kurang kronis (chronic malnutrition).

Pangan bermutu bagi otak harus selalu dikonsumsi untuk mendukung optimalisasi tumbuh- kembang anak. Namun demikian, ini menjadi sulit karena covid-19 telah meluluh-lantakkan kehidupan ekonomi masyarakat.


Mengejar tumbuh kembang

Studi yang dilakukan Ianotti et al. di dalam jurnal ilmiah Pediatrics [2107, 140(1)] mengungkapkan, bahwa, sebutir telur sehari selama enam bulan dapat memperbaiki pertumbuhan anak. Ini intervensi yang tidak sulit dan dapat dilakukan oleh pemerintah dalam mengatasi stunting atau gizi kurang.

Sebagian dana desa, dana promosi kesehatan, atau dana bantuan covid-19 dapat dialokasikan dalam program pemberian makanan tambahan (telur dan susu), untuk the vulnerable group yaitu anak balita yang saat ini menderita problem gizi.

Saya juga menggugah industri susu untuk bersama-sama pemerintah menggalang program susu gratis atau susu murah untuk anak balita selama pandemi covid-19. Sehingga, catch-up growth anak penderita gizi kurang dapat terjadi. Artinya, anak-anak balita tetap dapat mengejar tumbuhkembangnya dalam situasi yang sulit akibat covid-19.

Semoga the lost generation dapat diantisipasi pemerintah dan industri swasta. Sehingga, anak-anak Indonesia tetap dapat mengakses pangan bergizi di tengah kesulitan ekonomi yang kini melanda negara kita.

BERITA TERKAIT