15 September 2020, 05:34 WIB

Presiden Lantik Suryopratomo Jadi Dubes di Singapura


Pra/Medcom/P-2 | Politik dan Hukum

PRESIDEN Joko Widodo resmi melantik 20 duta besar luar biasa dan berkuasa penuh, di Istana Negara, Jakarta, kemarin. Salah satunya anggota Dewan Redaksi Media Group Suryopratomo, yang dipercaya untuk mengepalai Kedutaan Besar RI di Singapura.

Mereka ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 91/P Tahun 2020 tentang Pengangkatan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh.

Ke-20 duta besar sebelumnya menjalani proses uji kelayakan dan kepatut an di DPR. Ketika itu, Suryopratomo menyatakan komitmen memaksimalkan potensi Indonesia dan Singapura.

“Saya yakin jika kedua negara ini bisa membangun rasa saling percaya, yakin mencapai masa depan bersama itu akan menjadi sebuah kekuatan dunia,” ujar pria yang akrab disapa Tommy tersebut di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (18/6).

Tommy yang juga mantan direktur utama Metro TV itu menuturkan Indonesia memiliki keunggulan kekayaan alam dan sumber daya manusia (SDM). Indonesia diprediksi memiliki 187 juta angkatan kerja produktif pada 2035.

Singapura memiliki kemampuan membangun SDM yang unggul. Ia optimistis kelebihan tiap negara bila dikombinasikan dengan baik akan menjadi kekuatan luar biasa.

Selain Tommy, lima dubes lainnya ialah Laurentius Amrih Jinangkung (Vatikan), Ratu Silvy Gayatri (Finlandia). Kamapradipta Isnomo (Swedia dan Latvia), Adam Mulawarman Tugio (Pakistan), serta Ridwan Hassan (Qatar).

Kemudian empat lagi ialah Mayjen TNI (Purn) Imam Edy Mulyono (Bolava rian Venezuela, Trinidad & Tobago, Dominica, dan St Vincent & The Grenadies), Sukmo Harsono (Panama, Honduras, Kosta Rika, dan Nikaragua), Muhammad Lutfi (Amerika Serikat), Mohamad Hery Saripudin (Kenya, Kongo, Mauritius, Seychelles, Somalia, Uganda, dan Perwakilan Tetap untuk UNEP).

Empat berikutnya ialah Ronny Prasetyo Yuliantoro (Iran dan Turkmenistan), Hermono (Malaysia), Hildi Hamid (Azerbaijan), Wisnu Edi Pratignyo (Namibia dan Angola).

Selanjutnya, Mayerfas (Belanda dan OPCW), Andri Hadi (Belgia, Luksemburg, dan Uni Eropa), Herry Sudrajat (Mozambik dan Malawi), Denny Abdi (Vietnam), Mohamad Irzan Djohan (Oman dan Yaman), serta Agung Kurniadi (Ekuador). (Pra/Medcom/P-2)

BERITA TERKAIT