15 September 2020, 06:00 WIB

91,3 Juta Orang belum Terlayani Perbankan


Des/Ant/E-1 | Ekonomi

BANK Indonesia (BI) mencatat, hingga saat ini, sebanyak 91,3 juta masyarakat Indonesia masih belum tersentuh oleh layanan perbankan (unbankable). Hal itu menjadi tantangan sekaligus bagi perbankan dan perusahaan teknologi (fintech) untuk melayaninya melalui saluran digital.

“Kita juga masih punya sekitar 91,3 juta masyarakat yang unbankable dan juga 62,9 juta UMKM yang membutuhkan akses pada ekonomi dan ke­uang­an digital yang seharusnya dapat kita garap melalui proses digitalisasi,” ungkap Kepala Group Review dan Pengembangan Surveilans dan Pengawasan Departemen Surveilans Sistem Keuangan BI Yanti Setiawan dalam acara Webinar bertajuk Tumbuh Ber­sama dalam Ekosistem Di­gital dengan Mandiri Application Programming Interface (API), kemarin.

Pengembangan API dinilai tepat untuk mendukung konsep open banking dan interlink bank dengan fintech.

BI sebagai regulator juga terus mendukung proses digitalisasi melalui Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2025 (BSPI 2025).

“Menjadi perhatian bagi kami sebagai regulator untuk menjaga keseimbangan tracking drive balance dalam rangka mendukung inovasi maupun tetap menjaga risiko pada sistem keuangan itu sendiri. Dengan landasan itulah, BI telah meluncurkan BSPI 2025,” pungkasnya.

Wakil Dirut Bank Mandiri Hery Gunardi mengatakan API hadir untuk memudahkan konektivitas bank BUMN itu dengan pelaku bisnis digital untuk menggenjot sektor riil.

“Kolaborasi ini membuat potensi bisnis kami juga bertam­bah, juga memberikan kemudahan dan kenyamanan kepada nasabah mitra,” kata Hery.

Menurut dia, total ada 16 aplikasi API yang diluncurkan, dari pembayaran, isi ulang uang elektronik (e-money) hingga pembiayaan kepada pelaku UMKM melalui e-commerce.

Hingga saat ini, sudah ada 100 calon mitra yang terdaftar di portal API Bank Mandiri dengan target mencapai 150 mitra dengan potensi mencapai 2.000 perusahaan rintisan.

Terkait dengan keamanan API, Direktur Teknologi Informasi Bank Mandiri Rico Usthavia mengatakan aplikasi ter­se­but dikembangkan sesuai dengan standar keamanan dari regulator sekaligus dilengkapi sistem antifraud untuk mendeteksi transaksi tidak wajar. (Des/Ant/E-1)

BERITA TERKAIT