15 September 2020, 04:45 WIB

Panen Bagus, tapi Petani Merugi


TS/JI/CS/N-3 | Nusantara

HAMPARAN tanaman cabai rawit merah yang berbuah banyak tidak membuat Anifatul Isnaeni, 30, senang. Petani di lingkungan Sroyo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, itu justru mengaku mengalami kerugian hingga Rp5 juta.

“Panen bagus, tapi harga jual cabai rawit merah merosot hanya diterima Rp5.000 per kilogram, dari harga bia­sanya Rp30 ribu,” ungkap Anifatul, kemarin.

Ia memiliki lahan cabai seluas 1.800 meter persegi. Anifatul memanen setiap empat hari sekali, dengan hasil sekali panen mencapai 80 kilogram. “Pandemi membuat harga jual cabai jatuh. Permintaan kurang.”

Keluhan serupa juga dilontarkan Yayan, 52, petani kubis di Desa Dawuhan, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes. Kubis hasil panennya dihargai hanya Rp300 per kilogram.

“Dalam kondisi normal, bia­sanya saya menjual Rp1.500-Rp2.000. Tahun ini, saya rugi banyak,” keluhnya.

Permintaan sayuran di masa pandemi turun tajam. Di sejumlah tempat penampungan sayur di Desa Dawuhan, stok sayur menumpuk dan tidak sedikit yang membusuk. “Kami terpaksa tetap memanen karena memang sudah waktunya dipanen,” tambah Yayan.

Di sisi lain, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Singa­perbangsa, Karawang, Jawa Barat, Muharam meminta pemerintah menggelar gerakan penggunaan pupuk organik. “Secara masif harus dilakukan untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia. Ketergantungan itu berdampak buruk. Saat pupuk subsidi dikurangi mendadak, pupuk jadi langka seperti saat ini.” (TS/JI/CS/N-3)

BERITA TERKAIT