14 September 2020, 20:05 WIB

PleaseStay, Gerakan Pencegahan Bunuh Diri di Singapura


Weekend | Weekend

KESEHATAN mental remaja saat ini semakin menjadi perhatian di Singapura. Pasalnya, telah terjadi peningkatan angka kematian akibat bunuh diri di kalangan remaja selama beberapa tahun terakhir. 

Sebanyak 14 ibu yang kehilangan buah hati akibat bunuh diri akhirnya bergabung dan membuat gerakan advokasi. Gerakan yang dinamakan PleaseStay ini bertujuan untuk membantu kesehatan mental serta mencegah bunuh diri di kalangan remaja. 

“Banyak orang yang meremehkan depresi yang terjadi pada anak-anak. Meskipun anak-anak masih kecil, ketidakamanan mereka masih sangat penting”, ujar salah satu ibu inisiator PleaseStay, Doreen Kho, seperti dilansir dari kanal Youtube BBC News Indonesia (10/09).

Doreen merupakan ibu dari anak remaja 11 tahun Evan Low, yang bunuh diri dengan melompat dari lantai 16 di sebuah kondominium di Singapura pada tahun 2017. Selain ia, ibu inisiator lainnya adalahElaine Lek (54) ibu dari anak remaja 17 tahun Zen Dylan Koh, yang bunuh diri sekitar satu bulan sebelum berulang tahun ke-18 pada tahun 2018.  

Iklim persaingan yang sangat kompetitif di Singapura menjadi salah satu penyebab angka bunuh diri meningkat, terutama bagi anak laki-laki. Menurut Doreen Kho, pada budaya Asia laki-laki tidak boleh terlihat lemah karena diharapkan menjadi kuat dan bisa menanggung beban keluarga. Jika mengakui bahwa depresi atau sedih, berarti mengakui bahwa mereka lemah.  “Kami ingin anak-anak muda tahu bahwa tidak apa-apa untuk merasa tidak baik-baik saja,” ujar Doreen. 

Elaine juga bercerita bahwa setelah Zen meninggal, sepupunya bercerita tentang perjuangan melawan depresi. Ternyata, banyak keluarga yang tidak ingin menerima kenyataan serta mengakui bahwa anak mereka memiliki gangguan mental akhirnya hal ini menjadi sangat tabu dan menjadi stigma. Lebih parahnya lagi, Elaine juga mengenal beberapa ibu yang berduka karena anak mereka bunuh diri tetapi keluarga besar sama sekali tidak tahu dan mencari alasan bahwa anak tersebut sekolah di luar negeri. 

Di Indonesia, isu kesehatan mental di kalangan remaja juga semakin menjadi perhatian. Telah terdapat pula komunitas Into the Light yang mengedukasi dan mengadvokasi soal pencegahan bunuh diri bagi kalangan muda. (Yulia Kendriya Putrialvita/M-1)

BERITA TERKAIT