14 September 2020, 19:54 WIB

Kekerasan Terhadap Jurnalis di Seluruh Dunia Meningkat


Faustinus Nua | Internasional

BADAN Kebudayaan PBB (UNESCO) pada Senin (14/9) menyampaikan bahwa jumlah insiden kekerasan terhadap jurnalis yang meliput protes di seluruh dunia telah meningkat tajam. Pelaku atau penyebab kekerasan sebagian besar merupakan pihak polisi dan pasukan keamanan.

UNESCO mengatakan telah menghitung 21 protes antara Januari hingga Juni tahun ini di mana jurnalis diserang, ditangkap atau dibunuh. Organisasi, yang berperan termasuk memantau perkembangan media, mengungkapkanmya dalam sebuah laporan.

"Tren peningkatan yang lebih luas dalam penggunaan kekuatan yang melanggar hukum oleh polisi dan pasukan keamanan selama lima tahun terakhir," tulis laporan UNESCO.

UNESCO telah menyelidiki protes di 65 negara untuk laporan tersebut. Setidaknya 10 jurnalis tewas selama protes antara 2015 dan pertengahan 2020 ketika ada 125 kasus serangan atau penangkapan terhadap wartawan. Para wartawan yang meninggal dalam pekerjaan itu bekerja di Suriah, Meksiko, Israel, Nikaragua, Irlandia Utara, Nigeria, dan Irak.

"Ratusan jurnalis di seluruh dunia yang mencoba untuk meliput protes telah dilecehkan, dipukuli, diintimidasi, ditangkap, diawasi, diculik, dan peralatan mereka dirusak," kata laporan itu.

"Polisi menggunakan amunisi tidak mematikan mulai dari peluru karet hingga bola merica, telah melukai puluhan jurnalis, dengan beberapa di antaranya dibutakan pada satu matanya," katanya.

Seringkali polisi tidak takut akan hukuman atas perlakuan mereka terhadap wartawan. Hal itu menciderai kebebasan para peliput berita di seluruh dunia.

Baca juga :  Abaikan Isu Perubahan Iklim, Trump Dikecam Gubernur Pantai Barat

"Impunitas terus menjadi norma dalam beberapa tahun terakhir karena serangan terhadap pers yang meliput protes," kata UNESCO.

Direktur Jenderal UNESCO Audrey Azoulay meminta pemerintah untuk memastikan bahwa jurnalis dapat melakukan pekerjaan mereka tanpa rasa takut akan keselamatan mereka.

"Jurnalis memiliki peran penting dalam melaporkan dan menginformasikan kepada khalayak tentang gerakan protes. Kami menyerukan kepada komunitas internasional dan semua otoritas terkait untuk memastikan bahwa hak-hak fundamental ini ditegakkan, ungkapnya"

UNESCO mengatakan protes sering kali tentang ketidakadilan ekonomi, korupsi pemerintah, penurunan kebebasan politik, dan otoriterisme yang tumbuh. Kekerasan itu untuk melindungi kepentingan pribadi dan mencegah pelaporan yang seimbang.

"PBB dalam beberapa resolusi telah menyatakan keprihatinan atas retorika permusuhan para pemimpin politik terhadap pers," tutupnya.(CAN/OL-2)

 

BERITA TERKAIT