14 September 2020, 17:50 WIB

Gandeng Inspektorat Kementan Dukung Revitalisasi Tebu di Jatim


mediaindonesia.com | Ekonomi

PERJUANGAN Kementerian Pertanian (Kementan) untuk segera mencapai target swasembada gula tahun 2024 belum berakhir. Melalui program Persiapan Swasembada Gula Konsumsi Nasional, Kementan melakukan revitalisasi industri gula nasional secara komprehensif.

"Dengan cara tersebut diharapkan dapat menekan volume impor gula rafinasi yang selama ini diperuntukkan untuk memenuhi kekurangan konsumsi gula nasional” tutur Plt. Inspektur Jenderal Kementan. Gatot Irianto saat kunjungannya ke Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP )Surabaya, Jawa Timur, pekan lalu.

Gatot juga menuturkan, “Revitalisasi pabrik gula sebenarnya tidaklah susah. Teknologi yang dibutuhkan pun tidak terlalu canggih. Namun, revitalisasi pabrik gula akan percuma jika pasokan tebu sebagai bahan baku gula di bawah kapasitas pabrik."

"Investor pun akan ragu kalau produksi tebu tidak mencukupi kebutuhan pabrik, sejauh ini kestabilan produksi tebu para petani masih sulit dijaga,” ujarnya

Melalui kunjungan singkat ke BBPPTP Surabaya sebagai salah satu Unit Pelayanan Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Perkebunan yang masih berada di bawah lingkup Kementan, Gatot berharap agar gencar mensosialisasikan cara bertani tebu modern dan efisien dengan menggunakan bibit unggul yang nilai rendemannya tinggi.

Menurut Gatot, kerja sama harus dilakukan antara pemerintah dengan BUMN dan pihak swasta, misalnya untuk meningkatkan kualitas benih. Semakin banyak produksi benih yang dilakukan oleh pihak pemerintah, harusnya harga semakin murah, karena tenaga kerjanya dibiayai oleh pemerintah.

"Sebagai lembaga audit internal Kementan, Inspektorat Jenderal akan tetap memonitoring kegiatan Balai Besar dari mulai benih hingga proses bongkar ratoon di lapangan dan bila berhasil diharapkan BBPPTP Surabaya siap menjadi salah satu instansi Badan Layanan Umum (BLU)," papar Gatot. 

Hal senada disampaikan Kepala BBPPTP Surabaya Kresno Suharro yang mengatakan bahwa saat ini Balai Besar siap mendukung program tersebut karena telah memiliki nurseri di Jawa Timur yang berada di Kabupaten Tuban dengan berkapasitas 15 ribu polybag.

Selain itu, di Kabupaten Malang (Polbangtan Malang) berkapasaitas 90 ribu polybag. Tak hanya itu. Balai Besar juga menjalin kerja sama dengan Puslit, Badan Litbang dan PTPN (PT Perkebunan Nusantara) untuk dapat menghasilkan benih tebu melalui kultur jaringan dengan cepat, harga produksi murah dibandingkan proses melalui stek (read; bagal) dan tingkat ketahanan terhadap penyakit juga lebih kuat.

“Pengembangan pembangunan nurseri yang dimulai dari Tuban dan diperkuat dengan pembangunan di Polbangtan Malang serta kerjasama dengan petani tebu rakyat di Kediri seluas 2 hektare, Jombang 1 hektare, dan Mojokerto 2 hektare sebagai kebun perbanyakan adalah sebagai usaha untuk mendukung revitalisasi Gula di Jawa Timur (Jatim),” jelas Kresno.

Berdasarkan data yang dihimpun dari outlook tebu Kementan tahun 2016, Provinsi Jatim merupakan salah satu gudang gula nasional dengan kontribusi 45,06 %. Jadi sangat tepat pilahnnya yang menjadikan Jawa Timur sebagai penopang swasembada gula nasional 2020-2023.

Hal tersebut juga telah didukung dengan langkah BBPPTP Surabaya dengan program nurseri Tuban dan Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Malang yang secara khusus memproduksi benih tebu asal kultur jaringan serta melakukan kerjasama dengan petani tebu rakyat untuk penjenjangnya. Langkah tersebut sebagai rencana untuk memperlancar distribusi dan ketersediaan benih tebu di Jatim.

Perjalanan jawa timur sebagai gudang gula nasional cukup panjang dimulai dari tahun 1887 dengan berdirinya organisasi profesional yang menangani masalah tebu pada masa Hindia Belanda dengan nama “Proefstation Oost Java”.

Organisasi dari 'Negeri Kincir' iru dilakukan nasionalisasi pada tahun 1945 dan akhirnya hingga sekarang berubah menjadi nama P3GI atau Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia.

Keterkaitan berdirinya organisasi P3GI telah membentuk kultur agronomi masyarakat Jatim sebagai petani tebu. Karena itu, sudah selayaknya mengembalikan kejayaan dan kesejahteraan petani gula dengan program revitalisasi industri gula nasional secara komprehensif yang dimulai dari hulu hingga hilir untuk menyelamatkan dari ketergantungan impor gula. (OL-09)

BERITA TERKAIT