14 September 2020, 16:30 WIB

Promotor Andalkan Konser Daring untuk Serap Tenaga Kerja


Fathurrozak | Weekend

SEJAK Maret, para pelaku bisnis pertunjukan terpaksa harus membatalkan gelaran tahunan festival musik mereka. Namun, selalu ada peluang dari masa sulit seperti saat ini.

Praktis, semuanya berpindah ke kanal daring. Mulai dari konser daring tunggal para musisi, baik pra rekam hingga tayangan langsung. Seperti halnya Melomaniac, konsep yang dibawa Java Festival Production (JFP). Mengusung konsep konser daring live full band dengan menghadirkan beberapa musisi yang baru meroket, Melomaniac menjadi ‘merek’ baru JFP. 

“Karena passion kami adalah musik, jadi ingin membuat sesuatu, berkreasi ya dengan musik. Sampai nanti semuanya bisa off air. Kalau tidak melakukan apa-apa kan sulit. Jadi streaming sebagai alternatif. Salah satu cara untuk menggerakkan teman-teman vendor, dan musisi juga. Apakah ini efektif atau tidak, ini masih harus dibangun bersama-sama,” kata Presiden Direktur Java Festival Production Dewi Gontha, saat dihubungi lewat sambungan telepon, Jumat, (11/9).

Melomaniac hingga 5 September ini sudah mencapai lima edisi. Setiap edisinya, menyerap setidaknya 100 tenaga kerja di balik panggung. Baik dalam pra dan saat live streaming berlangsung. Sebagai suatu yang masih ‘baru,’ konsep konser daring memang diakui Dewi belum menyumbang pendapatan signifikan. 

Namun, hal ini juga terjadi di masa awal gelaran Java Jazz karena penetrasi yang belum masif ke publik. Terkait dampak pandemi pula, Dewi mengungkapkan jika Hodgepodge dan  Java Jazz bisa saja mengalami pergeseran jadwal. 

Ketidakpastian festival luring akibat pandemi juga dikatakan Senior Project Officer Ismaya, Iqbal Maulana. Bahkan, setelah We The Fest Virtual Home Edition, Iqbal menyebut pihaknya bakal lebih mengoptimalkan live streaming. Demajors juga belum berani memberikan keputusan final terkait helatan dan proyeksi mereka pada masa mendatang, setelah Synchronize tahun ini dibatalkan. (M-1)

BERITA TERKAIT