14 September 2020, 13:42 WIB

Pekerja Informal Paling Tertekan Hadapi Dampak Covid-19


Siswantini Suryandari | Ekonomi

PEKERJA informal paling terpukul akibat pandemi covid-19. Flourish Ventures sebuah perusahaan modal ventura global dengan investasi portofolio di Asia merilis laporan hasil evaluasi bagaimana pekerja independen atau gig worker dalam ekonomi informal Indonesia dalam mengatasi dampak pandemi. Pekerja independen atau informal antara lain ojek, pedagang online, penyedia jasa rumah tangga dan kurir. Dari hasil survey yanh dirilis dalam Laporan Indonesia Spotlight Agustus 2020 mencakup 586 pekerja informal yang disurvey menyebutkan 86% responden terdampak covid-19 dan penghasilan mereka berkurang. Laporan Indonesia Spotlight adalah edisi ketiga dari seri laporan Flourish yang dinamakan The Digital Hustle: Gig Worker Financial Lives Under Pressu


Para responden yang disurvey memiliki penghasilan lebih dari Rp3 juta mengalami penurunan dari Maret 43 persen pada Maret menjadi 5 persen pada Juni/Juli 2020. Sedangkan pekerja independen berpenghasilan kurang dari Rp1 juta mengalami penurunan dari 8% pada Maret menjadi 55% pada Juni/Juli 2020. Dalam laporan tersebut disebutkan 74% responden khawatir dampak covid-19. Namun untuk pekerja informal lebih khawatir dampak covid-19 terhadap perekonomian. Yakni 52 persen responden lebih khawatir masalah ekonomi daripada kesehatan (14 persen). Pekerja informal di kota-kota besar paling terkena dampak. Sebanyak 63 persen responden mengaku kehilangan penghasilan di kota-kota besar, sedangkan di kota-kota kecil responden kehilangan penghasilan mencapai 49 persen.

"Dalam penurunan ekonomi akibat pandemi COVID-19, pekerja independen atau gig worker telah secara signifikan terkena dampaknya dan mereka tetap rentan mengalami kesulitan dalam hal finansial," kata Tilman Ehrbeck, managing partner di Flourish dalam keterangan tertulis diterima mediaindonesia.com, Senin (14/9).

"Ekonomi dengan sistem pekerja independen atau gig worker memungkinkan jutaan pekerja dalam sektor informal Indonesia, yang secara historis kurang diperhatikan oleh industri finansial, meresmikan mata pencaharian mereka dan menjadi lebih terhubung ke keuangan digital. Kami melakukan riset ini untuk memahami bagaimana perusahaan Fintech dapat dengan lebih baik melayani para pekerja independen atau gig worker ini, serta individu dan usaha kecil yang rentan mengalami kesulitan, selama krisis ini dan di masa mendatang," jelasnya.

baca juga: Gernas 1000 Startup Digital Dorong Skala Bisnis Lebih Cepat

Salah satu cara berhemat dilakukan oleh para pekerja informal adalah mengurangi konsumsi makanan, mencari kerja tambahan, dan fokus menabung karena khawatir di yusia tua tanpa tabungan akan berat. Terutama saat mereka sudah tidak mampu bekerja dan tidak ada biaya ke rumah sakit. Di sisi lain, akibat pandemi sekirar 66 persen pekerja informal lebih khawatir bila tidak ada uang tunai dalam jangka pendek daripada pendanaan kanhka panjang.

"Pandemi menggarisbawahi tantangan yang dihadapi pekerja independen atau gig worker di Indonesia, serta kemampuan beradaptasi mereka dan dorongan kewirausahaan mereka dalam menghadapi kesulitan," kata Smita Aggarwal, global investments advisor di Flourish. 

"Walaupun pekerja independen atau gig worker telah menunjukkan ketabahan yang luar biasa dalam menghadapi krisis ini, kami percaya terdapat peluang yang berarti untuk platform kerja independen dan Fintechs guna memenuhi kebutuhan finansial pekerja yang belum terpenuhi. Dan membantu likuiditas jangka pendek, perlindungan penghasilan, serta resiliensi jangka panjang," pungkasnya. (OL-3)


 

BERITA TERKAIT