14 September 2020, 10:40 WIB

DoNiTa Disukai Petani dan Dimusuhi Organisme Pengganggu Tanaman


mediaindonesia.com | Ekonomi

MEMASUKI era revolusi industri 4.0, maka mau tidak mau semua ikut mengikuti perkembangannya, termasuk sektor pertanian dan juga petani.

Menanggapi hal tersebut, kini petani mempunyai aplikasi layanan klinik tanaman yaitu Dokter taNi kiTa (DoNiTa). Layanan DoNiTa dibuat menggunakan sistem berbasis android.

“Aplikasi ini bertujuan untuk mempermudah para petani memperoleh informasi tentang serangan OPT (organisme pengganggu tanaman) aperkebunan dan pengendaliannya. Aplikasi DoNiTa juga memfasilitasi petani dan pihak terkait lainnya untuk melaporkan atau mengadukan gangguan OPT perkebunan di wilayahnya," jelas Drs.Sigit Wahyudi, MM Kepala Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian (Kementan). 

"Dengan aplikasi DoNiTa, setiap petani dapat secara langsung berkonsultasi kepada dokter tanaman di BBPPTP Medan tentang permasalahan OPT di kebunnya,” papar Sigit.

Lebih lanjut, Sigit menuturkan bahwa aplikasi DoNiTa dibangun untuk memberikan layanan prima kepada masyarakat. Aplikasi DoNiTa memperkenalkan kepada masyarakat luas tentang keberadaan dan tugas pokok dan fungsi BBPPTP Medan khususnya dalam pengendalian OPT perkebunan.

Dengan adanya aplikasi ini, layanan klinik tanaman BBPPTP Medan kepada masyarakat akan lebih mudah dan cepat.

Aplikasi Dokter taNi kiTa (DoNiTa) ini masih dalam tahap penyelesaian. Namun telah mulai diperkenalkan kepada masyarakat perkebunan.

Sosialisasi dan pengenalan aplikasi DoNiTa dilakukan pertama sekali kepada petugas UPPT dengan cara mengunduh aplikasi tersebut pada telepon selular android masing-masing petugas dan mempelajari menu-menu yang terdapat di dalamnya.

“Pada saat aplikasi DoNiTa selesai dibangun, diharapkan petugas UPPT dapat memperkenalkan aplikasi DoNiTa kepada petani di daerah binaannya dan menjelaskan manfaat dari aplikasi tersebut,” ungkap Sigit.

Kedepan, kata Sigit akan ada pengembangan terhadap aplikasi tersebut. Pertama memudahkan akses untuk pengamatan OPT. Penggunaan aplikasi online untukpengamatan OPT tentunya lebih efektif dan efisien dari pada cara pengamatandan pencatatan yang manual.

Pada aplikasi ini, pimpinan melalui admin dapat memonitor seluruh aktivitas pengamatan yang dilakukan petugas dari waktu ke waktu dengan akurat.

Kedua, meningkatkan produktivitas pegawai. Dampak baik dari penggunaan aplikasi online yang disebutkan di atas juga dapat menjadikan petugas bekerja lebih produktif, kreatif dan melek teknologi. “Dengan demikian lebih banyak tugas yang dapat diselesaikan,” jelas Sigit.

Ketiga, lanjut Sigit, kolaborasi internal menjadi lebih efisien. Koordinasi antar petugas maupun antar instansi dapat lebih cepat terlebih lagi dalam situasi pandemi saat ini.

Aplikasi online sangat berguna di situasi seperti saat ini untuk memastikan bahwa pegawai tetap bekerja secara produktif. Untuk memudahkan pegawai dan meningkatkan kinerja pegawai di bidang teknologi, sehingga tidak tertinggal dalam perkembangan teknologi.

“Aplikasi berbasis online ini dapat memudahkan seluruh instansi yang saling terkait untuk saling berkolaborasi/berkoordinasi mengenai laporan OPT," ujaranya.

"petugas antar instansi juga dapat saling berbagi informasi melalui sistem ini. Mereka tidak perlu bertemu secara langsung untuk mengonfirmasi sesuatu, karena mereka dapat mengeceknya sendiri melalui data real-time,” jelas Sigit.

Kelima, tambah Sigit, sharing informasi lebih cepat. “Kita dapat membagikan informasi ke orang-orang tertentu yang terkait dengan memasukkan nama mereka yang terhubung langsung ke email mereka. Orang yang diberikan akses akan mendapatkan notifikasi mengenai perubahan atau pembaruan apapun yang ada di system,” harap Sigit.

Keeman, kata Sigit, mempercepat pengambilan tindakan. Ke depan, kedua aplikasi dapat terhubung (link) satu sama lain sehingga apabila ditemukan suatu daerah yang memiliki tingkat serangan tinggi berdasarkan hasil pengamatan di Silap OPT maka dapat segera dilakukan pengendalian dengan melihat rekomendasi pengendalian yang terdapat di DoNiTa.

"Kita dapat membuat keputusan untuk pengambilan tindakan pengendalian berdasarkan pada data serangan OPT yang dilihat melalui data atau gambar peta yang telah memberikan notifikasi serangan tinggi (ditandai dengan warna merah).

Apabila terdapat daerah yang terinfestasi OPT baru maka dapat segera diantisipasi agar tidak merugikan. Data serangan OPT tersebut dapat ditandai dalam peta yang terdapat di Silap OPT.

Ketujuh, menjaga keamanan data dan sebagai data bank. Menyimpan data dalam sistem yang tersebar dalam beberapa database, sehingga data apapun yang dibutuhkan mengenai serangan OPT dapat tersimpan untuk beberapa tahun, dan jika dibutuhkan hanya mengkonfirmasi ke yang bersangkutan untuk dibukakan datanya.

Kita dapat menentukan pengguna yang dapat mengakses data-data tertentu, sehingga tidak semua orang diberikan hak untuk mengaksesnya. Selain itu, berbagai kesalahan dan gangguan dapat diantisipasi dan diperbaiki dengan segera oleh administrator khusus karena sistem telah dikelola dengan berbasis web.

Harapan ke depan, kedua aplikasi ini dapat berhasil dimanfaatkan dan berkesinambungan juga bias semakin berkembang dan inovatif sesuai dengan kebutuhan yang diharapkan sehingga data dari lapangan bias langsung sampai ke pusat dengan cepat dan akurat.

“Jadi wilayah pengembangan pemanfaatan kedua aplikasi ini juga diharapkan dapat segera mencapai 10 provinsi binaan BBPPTP Medan serta dapat diadopsi oleh instansi/UPT lain,” pungkas Sigit. (OL-09)

BERITA TERKAIT