14 September 2020, 06:30 WIB

Cegah Kredit Macet, Fintech Manfaatkan Pusdafil


GANA BUANA | Ekonomi

PERUSAHAAN penyelenggara teknologi finansial pembiayaan atau fintech lending bisa memanfaatkan Pusat Data Fintech Lending (Pusdafi l) untuk pencegahan risiko kredit macet.

Saat ini, Fintech Data Center (FDC) sudah menjaring lebih dari 26 juta peminjam. Kepala Bidang Kelembagaan dan Humas Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Tumbur Pardede mengatakan penggunaan pusat data bisa memberikan gambaran terkait dengan calon peminjam.

Hingga saat ini, 161 startup fintech lendingsudah menggunakan data un-tuk mitigasi kredit macet.“

Sebelum ada Pusdafi l atau periode 2017-2019, banyak peminjam nakal yang meman-faatkan fintech lending untuk meminjam. Bahkan, ada satu debitur yang meminjam di 10 platform.

Mereka ‘gali lubang tutup lubang’,” kata Tumbur dalam sebuah webinar di Ja-karta, belum lama ini.

Dia menjelaskan, data yang dibagikan melalui pusat data bukan berupa nama penggu-na, melainkan nomor induk kependudukan (NIK). Calon peminjam dengan NIK sekian, misalnya, mengajukan pem-biayaan di platform A.

Perusahaan penyedia platform A dapat mengetahui calon peminjam tersebut sudah meminjam di mana saja dan bagaimana pembayarannya. “Akan terlihat, apakah ma-sih mempunyai pinjaman atau tidak. Statusnya (pemba-yaran),” ujar Tumbur.

Pusdafil juga dapat membe-rikan gambaran terkait dengan penilaian pinjaman (credit scor-ing) yang diklaim lebih akurat. ggRasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) di indus-ntri fi ntech lending masih terjaga gdengan cara itu. Namun, masih ada satu juta data peminjam belum terintegrasi. “Ini karena ada fi ntechlending yang baru gterdaftar di Otoritas Jasa Ke-uangan (OJK).”

Tingkat wanprestasi pengembalian pinjaman (TWP) di atas 90 hari fi ntech lendingtercatat 6,1% per Juni. Rasio ini melonjak jika dibanding-kan dengan April 4,93% dan Mei 5,1%. Namun, Tumbur menilai angka itu masih wajar. “Ini karena kondisi aktual di masyarakat,” kata dia.

Makin selektif

Ketua Umum AFPI Adri-an Gunadi mengatakan, keberadaan FDC semakin penting di masa pandemi covid-19. Ini dilakukan untuk menurunkan risiko pinjaman bermasalah.

“Apalagi, fintech semakin selektif dalam memberikan pinjaman di tengah covid-19. Modalku, misalnya, meng-indentifikasi industri mana saja yang performanya baik dan masih bisa berkembang seperti sektor kesehatan dan penjual online,” jelas dia da-lam keterangan resmi, be-berapa waktu lalu.

Co-founder sekaligus CEO Modalku, Reynold Wijaya, me-nyampaikan TWP di platform Modalku meningkat menjadi 1% di tengah pandemi covid-19. Meski masih kecil, rasio kredit macet itu melonjak jika dibandingkan dengan akhir 2019 yang hanya 0,5%.

“Pergerakan tingkat kredit macet tentunya dipengaruhi cepatnya perputaran kredit. Selain itu, setiap sektor indus-tri juga memiliki siklus usaha yang berbeda.” Koinworksjuga berupaya menjaga rasio kredit ber-masalah di kisaran 1%. “Kami mengecek secara berkala guna memastikan bisnis yang akan didanai layak un-tuk mendapatkan pinjaman.

Maka, kemungkinan gagal bayar dari peminjam dapat dihindari,” ujar Co-founder sekaligus CEO Koinworks, Benedicto Haryono.Seperti yang diketahui, ber-dasarkan data OJK, ada 161 penyelenggara fi ntech lendingyang terdaftar, 33 di antaranya sudah memiliki izin.

Mereka telah menyalurkan pinjaman total Rp116,7 triliun dengan pinjaman outstandingmenca-gpai Rp11,94 triliun per Juli.AFPI memproyeksikan, pe-nyaluran pembiayaan melalui fintech lending mencapai Rp61 triliun selama tahun ini.

Angka itu turun ketimbang perkiraan awal karena ada-nya pandemi covid-19. Meski begitu, target ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan realisasi tahun lalu yang ha-nya Rp58 triliun. (S-1

BERITA TERKAIT