14 September 2020, 05:58 WIB

Lockdown Baru Israel Dikhawatirkan Ganggu Perayaan Agama Yahudi


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

ISRAEL memberlakukan lockdown nasional baru untuk menahan penyebaran covid-19. Pembatasan ketat ITU mulai berlaku pada tahun baru Yahudi.

Penguncian kedua di negara itu dimulai pada Jumat (18/9) dan akan berlangsung setidaknya tiga minggu.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan langkah-langkah itu akan "Memberi dampak besar pada kita semua,” tetapi negara itu menghadapi lonjakan dengan 4.000 infeksi baru covid-19 setiap hari.

Seorang menteri telah mengundurkan diri untuk memprotes pembatasan yang tumpang tindih dengan festival-festival penting Yahudi.

Baca juga: Israel Lockdown Selama Tiga Pekan

Menteri Perumahan Yaakov Litzman, yang memimpin sebuah Partai Yahudi ultra-Ortodoks, mengatakan tindakan itu akan menghalangi orang-orang Yahudi merayakan festival keagamaan mereka, termasuk Yom Kippur, hari tersuci dalam kalender Yahudi, pada 27 September.

Dia juga mengancam akan menarik partainya keluar dari koalisi pemerintahan.

Negara itu telah menyaksikan 1.108 kematian akibat covid-19 dan lebih dari 153.000 infeksi yang dikonfirmasi, menurut penghitungan global yang dicatat oleh Universitas Johns Hopkins.

Israel, yang memiliki populasi sekitar 9 juta jiwa, telah melaporkan lebih dari 3.000 kasus baru dalam sehari selama beberapa pekan terakhir.

Dalam pidato yang disiarkan televisi, Minggu (13/9), Netanyahu mengatakan angkanya telah meningkat menjadi 4.000 per hari.

Tindakan yang dia umumkan akan menjadi yang paling luas diberlakukan di Israel sejak lockdown pertama, yang berlangsung dari akhir Maret hingga awal Mei.

Ketentuan-ketentuan untuk lockdown ini termasuk larangan lebih dari 10 orang bertemu di dalam ruangan sementara kelompok 20 orang diperbolehkan di luar ruangan.

Sekolah dan pusat perbelanjaan akan ditutup sementara warga Israel harus tetap tinggal dalam radius 500 meter dari rumah mereka dengan pengecualian bepergian ke tempat kerja

Kantor dan bisnis nonpemerintah dapat tetap buka tetapi tidak boleh menerima pelanggan. Namun, supermarket dan apotek tetap buka untuk umum.

Netanyahu mengakui gangguan yang akan ditimbulkan oleh penguncian terhadap komunitas Yahudi yang merayakan hari raya keagamaan yang biasanya membuat para keluarga berkumpul.

"Tentu kita tidak akan bisa merayakannya dengan keluarga besar kita," ujarnya.

Pembatasan pertemuan dalam ruangan akan sangat memengaruhi ibadah di sinagoga.

Penguncian kedua akan merugikan ekonomi, yang berada dalam resesi karena pandemi, diperkirakan 6,5 miliar shekel (Rp27 triliun), kata Kementerian Keuangan. (BBC/OL-1)

BERITA TERKAIT