14 September 2020, 00:19 WIB

Tiongkok Pilih TikTok Ditutup Ketimbang Dijual Paksa


Mediaindonesia.com | Internasional

Beijing menentang penjualan paksa operasi TikTok di AS oleh pemiliknya asal Tiongkok, ByteDance, dan lebih memilih melihat aplikasi video singkat itu ditutup di Amerika Serikat.

Baca juga : https://mediaindonesia.com/read/detail/306386-sambut-ramadan-tiktok-promosi-3-program-unggulan

ByteDance telah dalam pembicaraan untuk menjual bisnis TikTok di AS kepada pembeli potensial, termasuk Microsoft dan Oracle, sejak presiden AS Donald Trump mengancam untuk memblokir layanan tersebut jika tidak dijual.

Trump telah memberi ByteDance tenggat waktu hingga 15 September untuk menyelesaikan kesepakatan.

Namun pejabat Tiongkok yakin penjualan paksa akan membuat ByteDance dan Tiongkok tampak lemah dalam menghadapi tekanan dari Washington, menurut sumber Reuters, dikutip Minggu (13/9).

ByteDance dalam sebuah pernyataan mengatakan kepada Reuters bahwa pemerintah Tiongkok tidak pernah menyarankan untuk harus menutup TikTok di AS atau di negara lain mana pun.

Dua sumber mengatakan Tiongkok menggunakan kebijakan ekspor teknologi, yang dibuat pada 28 Agustus, untuk menunda kesepakatan apa pun yang dicapai oleh ByteDance, jika perlu.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Zhao Lijian, mengatakan bahwa AS menyalahgunakan konsep keamanan nasional, dan mendesaknya untuk berhenti menindas perusahaan asing. (Ant)

BERITA TERKAIT