14 September 2020, 01:15 WIB

Cegah Kematian Tenaga Kesehatan


Atalya Puspa | Humaniora

PEMERINTAH harus segera turun tangan mengatasi ancaman kematian yang dihadapi para tenaga kesehatan di Tanah Air akibat semakin tingginya tingkat penyebaran covid-19 saat ini.

“Hingga saat ini Ikatan Dokter Indonesia mencatat ada 115 dokter di Indonesia yang meninggal dunia akibat terpapar covid-19. Belum lagi korban perawat dan tenaga kesehatan lainnya,” ujar Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulisnya, kemarin.

Menurut Lestari, ancaman kematian akibat covid-19 yang dihadapi para tenaga kesehatan merupakan hal yang serius dan harus segera dicarikan solusi untuk mengatasinya. Apalagi, jelas Rerie, sapaan akrab Lestari, jumlah dokter di Indonesia terbilang rendah di Asia Tenggara.

Data Bank Dunia periode 2010-2017 mencatat Indonesia hanya memiliki 4 dokter yang melayani 10.000 penduduk. Adapun rasio perawat per 1.000 penduduk sebesar 2,1 yang artinya dua orang melayani 1.000 penduduk di Indonesia.

“Bila jumlah dokter dan perawat yang sangat terbatas itu dibiarkan menghadapi ancaman kematian akibat wabah covid-19, sektor kesehatan kita secara nasional akan benar-benar terancam,” ujar Rerie.

Terkait upaya yang akan dilakukan untuk mengatasi ancaman kematian para tenaga kesehatan, Legislator Partai NasDem itu    mengungkapkan pihak IDI sudah mendata sejumlah dugaan penyebab merebaknya penularan covid-19 di fasilitas kesehatan.

Dugaan penyebabnya, ujar dia, antara lain desain tata ruang rumah sakit dan fasilitas kesehatan yang belum dirancang untuk penanganan pandemi yang disebabkan virus. Selain itu, sebaran tenaga kesehatan yang tidak merata di setiap daerah juga diduga menjadi pemicu mudahnya para tenaga kesehatan terpapar virus.

“Di daerah-daerah yang kekurangan tenaga kesehatan, tentu saja membuat tenaga kesehatan yang ada menjalani waktu kerja yang lebih panjang. Kondisi itu berdampak pada kebugaran tenaga kesehatan saat melayani pasien. Akibatnya, mereka rawan terpapar covid-19,” ungkap Rerie.

Ketua IDI Jawa Barat, Eka Mulyana, mengakui saat ini kondisi tenaga kesehatan baik di Jawa Barat maupun di daerah lain cukup memprihatinkan. Jumlah kematian dokter itu, menurutnya, merupakan salah satu yang terbanyak dibandingkan negara lain.


Siapkan SDM

Masih minimnya tenaga kesehatan di Tanah Air menjadi masalah tersendiri, apalagi di saat pandemi seperti sekarang. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyambut baik keputusan DKI Jakarta untuk kembali menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Menurut Wakil Ketua PB IDI Adib Khumaidi, Indonesia juga harus mengambil langkah antisipasi terkait ketersediaan sumber daya manusia (SDM) untuk penanganan covid-19.

“Menurut saya, perlu ada diskusi dengan melibatkan semua stakeholder untuk permasalahan SDM ini. Karena kita harus ambil langkah antisipasi untuk perkembangan ke depan,” kata Adib kepada Media Indonesia, kemarin.

Adib mengakui peningkatan jumlah pasien covid-19 dan terus bertambahnya RS rujukan covid-19 tidak sebanding dengan jumlah tenaga kesehatan yang ada saat ini.

Pada kesempatan itu, Adib juga meminta agar masyarakat di berbagai lapisan membatasi kegiatan di luar rumah guna mencegah penularan virus korona yang belum ditemukan vaksinnya itu. (H-1)

BERITA TERKAIT