13 September 2020, 23:18 WIB

Kasus DBD di Kota Tasikmalaya Meningkat


Kristiadi | Nusantara

KASUS demam berdarah dengue (DBD) di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat terus bertambah. Sejak Januari hingga September 2020, berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, telah tercatat 1.214 kasus diantaranya 20 orang meninggal dunia dan lainnya masih menjalani perawatan.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, Uus Supangat mengatakan, pihaknya masih terus memantau perkembangan kasus DBD 69 kelurahan yang tersebar di 10 kecamatan. Hingga kini, Pemkot Tasikmalaya belum memutuskan status KLB DBD.

"Pemerintah Kota selama ini memang belum menetapkan kasus KLB karena selama ini ada perhitungan, dan bukan hanya banyak kasus, tapi hal lainnya juga harus diperhatikan. Akan tetapi, Dinas Kesehatan sendiri sekarang telah melakukan pengendalian kasus namun untuk sekarang tinggal menyisakan 21 pasien yang masih dirawat," katanya, Minggu (13/9).

Menurutnya, untuk serangan nyamuk demam berdarah dengue (DBD) yang terjadi harusnya masyarakat juga semakin banyak yang sadar menjaga lingkungan. Sebab, untuk mengatasi kasus tersebut tak bisa hanya mengandalkan pengasapan, tetapi yang terpenting adalah gerakan menguras, menutup, mengubur (3M).

"Peningkatan yang telah terjadi sekarang adalah angka kematian akibat DBD. Pada 2018 angka kematian hanya hanya dua kasus, lima kasus pada 2019 dan melonjak 20 kasus pada 2020," ujarnya.

Ia menjelaskan, kasus DBD yang terjadi selama ini hampir 50 persen di tahun 2020 menimpa anak berusia 15 tahun ke bawah, yaitu satu persen balita berusia 1 tahun, 15 persen balita 1-4 tahun, dan 27 persen anak 5-14 tahun. Sedangkan, kasus kematian dari 20 kasus kematian akibat DBD, enam persen adalah balita 1 tahun, 12 persen 1-4 tahun, dan 24 persen 5-14 tahun.

"Untuk kasus DBD yang paling banyak terjadi selama ini berada di Kecamatan Kawalu 197 kasus, Mangkubumi 168 kasus, Bungursari 132 kasus, Cihideung 129 kasus, Tamansari 126 kasus, dan Cipedes 126 kasus. Namun, di lokasi tersebut memang banyaknya kawasan padat penduduk dan tingkat sebaran semakin tinggi," paparnya. (R-1)

 

BERITA TERKAIT