13 September 2020, 06:10 WIB

Tidak Pengaruhi Pengembangan Vaksin


(Zuq/M-2 | Weekend

 ADA ketakutan dan kekhawatiran mutasi virus SARS-CoV-2 penyebab covid-19 akan berimbas pada proses penemuan vaksin. Apalagi, mutasi virus itu berjalan terus seiring de-ngan penyebarannya yang belum bisa direm.Akan tetapi, peneliti di Pusat Pe-nelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Wien Kusharyoto, mengungkap mutasi itu tidak akan banyak berpengaruh pada pengembangan vaksin.

“Saya kira tidak akan banyak berpengaruh pada proses pengem-bangan vaksin. Artinya, vaksin yang dikembangkan saat ini, ba-gaimanapun, akan tetap (berfungsi). Kalau memang dia aman dan efektif, dia akan mampu dapat mencegah penyakit covid-19.

Tidak terpe-ngaruh oleh mutasi saat ini,” ujar Wien saat berbincang via telepon, Selasa (8/9).Wien juga menyampaikan per-misalan mutasi virus dengan pen-ciptaan vaksin. Virus ibarat bola sepak, sedangkan mutasi yang terjadi di protein spike seperti bola kelereng. Artinya, keberadaan bola kelereng itu tidak mengubah karak-teristik bola sepak.

Pertanyaannya, bagaimana jika mutasi terjadi di bagian penting vi-rus, seperti reseptor binding domain(RPD), yang memungkinkannya berlabuh ke reseptor sel manusia. Padahal, pengembangan vaksin juga menyasar bagian tersebut.Mutasi, menurut Wien, tidak akan banyak berpengaruh jika tidak sam-pai mengubah karakteristik virus. Namun, berkait dengan pertanyaan sebelumnya, Wien menyajikan be-berapa kemungkinan.

Pertama, ketika mutasi terjadi pada asam amino yang terlibat pengikatan dengan reseptor ACE2 (Angiotensin converting enzyme(( 2), ada kemungkinan berefek pada karakteristik virusnya. Perubahan karateristik itu juga masih menyim-pan banyak kemungkinan.“Itu bisa kemudian pengikatannyalebih kuat sehingga lebih mudahmasuk ke sel, lebih mudah menular,atau bisa juga lebih lemah.

Jadi, ter-gantung nanti tipe mutasinya akanberakibat apa,” lanjutnya.Memang ada mutasi yang ditemu-kan pada RPD. Untungnya, hinggasaat ini, mutasi tersebut masih be-lum terlalu berdampak pada prosespengembangan vaksin.“Memang ada mutasi pada RPDdan dekat situs pengikatan denganreseptor ACE2.

Itu sudah ditemukandi Australia, Indonesia, tapi dariposisinya, sejauh ini kemungkinan belum berdampak pada efektivitas vaksin yang dikembangkan saat ini,” tegas Wien.Wien menyatakan mutasi yang berbahaya ialah mutasi dalam jumlah besar dan mampu meng-ubah RPD. Hal itu berimbas pada kemampuan pengikatan dengan reseptor ACE2.

Dengan kata lain, virus akan tetap bisa berikatan de-ngan reseptornya. Padahal, itu juga yang seharusnya dicegah dengan antibodi.Selain itu, ada pula kemungkinan mutasi yang mampu mengubah pola glikosilasi pada permukaan protein spike. Namun, sekali lagi, ujar Wien, jumlahnya harus signifi kan.Ia mengungkapkan, virus pada dasarnya berkeinginan agar inang-nya tetap hidup.

“Jadi, dia tetap bisa bereplikasi pada tubuh inang. Kalau inangnya mati kan virusnya juga tereliminasi,” ujarnya.Sayangnya, virus tidak bisa ber-pikir dan mutasi bersifat kebetulan sehingga mutasi virus tidak bisa diprogram dan diarahkan. Karena itu pula, tegasnya, cara paling efek-tif dan murah menghadapi virus beserta mutasinya ialah dengan menghentikan penyebaran virus tersebut. (Zuq/M-2

 

BERITA TERKAIT