12 September 2020, 12:45 WIB

Muncul Klaster Baru Covid-19 di Kota Semarang


Akhmad Safuan | Nusantara

Ada klaster baru di Kota Semarang, yaitu klaster rumah makan kepala ikan rumah makan manyung di Kelurahan Krobokan, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang. Dari hasil pemantauan mediaindonesia.com pada Sabtu (12/9), rumah makan tersebut masih tutup.

Sebanyak 20 orang ditemukan terpapar covid-19 setelah dilakukan pemeriksaan rapid test dan swab test pada karyawan, keluarga, dan pengunjung rumah makan tersebut. Dengan bertambahnya kasus covid-19, maka jumlah kasus covid-19 meningkat dratis padahal sebelumnya Kelurahan Krobogan zero covid-19.

Data dari Dinas Kesehatan Kota Semarang, kemarin pasien covid-19 yang dirawat secara keseluruhan 529 orang dengan rincian 366 dari dalam kota dan 163 orang dari luar kota. Kini jumlah pasien covid-19 meningkat menjadi 568 orang. Rinciannya adalah 402 orang dari dalam kota dan 166 orang dari luar kota.

Baca juga: Kontak dengan Menteri KKP, 10 Pejabat NTT Jalani Rapid Test

Terkait ditutupnya rumah makan tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang Moh Abdul Hakam mengatakan rumah makan ditutup sementara. "Dilakukan sterilisasi selama ditutup dan setelah itu dapat kembali dibuka," imbuh Hakam.

Ditemukan klaster baru rumah makan, kata Hakam, setelah sebelumnya ditemukan satu karyawan rumah makan tersebut yang positif covid-19 dirawat di rumah sakit. "Kemudian dilakukan pelacakan terhadap karyawan, keluarga, dan pengunjung hingga ditemukan ada 20 orang yang terpapar covid-19. Mereka kini menjalani isolasi di rumah singgah," jelasnya.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sudah memerintahkan Kota Semarang agar menarik rem darurat karena melihat kondisi penyebaran yang ada cukup mengkhawatirkan dan masuk dalam zona merah covid-19.

Menurut Ganjar, kedisiplinan warga Kota Semarang terhadap protokol kesehatan juga masih dipandang kurang hingga membahayakan warga lainnya, sehingga perlu diambil langkah tegas penegakan hukum dan juga langkah kongkrit untuk mencegah penyebaran lebih besar lagi.

"Jadi, saya minta Pemkot Semarang segera menarik rem darurat karena kondisi penyebaran covid-19 cukup mengkhawatirkan berada di zona merah dan kedisiplinan warga terhadap protokol kesehatan yang kurang," ujar Ganjar. (OL-14)

 

BERITA TERKAIT