12 September 2020, 06:30 WIB

Pelaku Usaha Mulai Resah


M ILHAM RA | Ekonomi

WAKIL Ketua Umum Bidang Hubungan Internasional Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Shinta Widjaja Kamdani menyebut keputusan Gubernur DKI Jakarta yang akan kembali menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) mulai Senin (14/9) tergolong mengkhawatirkan dunia usaha.

Sekalipun PSBB jilid II bertujuan menekan penyebaran pandemi covid-19 di Ibu Kota, ia mendesak pembuat keputusan juga memikirkan dampak dari kebijakan itu karena bisa kembali mematikan perekonomian yang kini mulai bergeliat.

“Kami menyadari situasi covid-19 di Jakarta memang mengkhawatirkan, tapi perlu juga dipertimbangkan bagaimana dampak ke ekonominya. Jangan sampai dampaknya terlalu besar pada perekonomian,” kata Shinta saat dihubungi, kemarin.

“PMI (purchasing manager’s index) baru mulai naik, geliat sudah mulai ada, pemerintah telah menggelontorkan stimulus untuk mengungkit daya beli, jadi tidak mungkin sebenarnya ini dihentikan total kembali. Jadi kami minta pemerintah memperhatikan hal-hal ini, termasuk pengecualian pada 11 sektor itu, kemudian kepada pabrik-pabrik yang sudah menerapkan protokol itu dikecualikan,” sambungnya.

PMI manufaktur Indonesia mulai Agustus lalu telah merangkak naik di level 50,8, yang menandakan ekspansif lantaran melewati ambang batas netral di angka 50. Posisi itu menunjukkan adanya perbaikan jika dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya di angka 39,1 pada Juni dan 46,9 pada Juli 2020.

Berangsur naiknya level PMI manufaktur Indonesia itu mengindikasikan adanya pemulihan ekonomi. Shinta mengaku khawatir target pemulihan ekonomi nasional di triwulan III 2020 bakal meleset lantaran pemberlakuan PSBB jilid II.

Lion Air khawatir Senada dengannya, Direktur Utama Lion Air Group Edward Sirait mengaku khawatir pengetatan di DKI Jakarta akan berdampak pada industri penerbangan. Ia khawatir jika kebijakan PSBB Jakarta itu di ikuti oleh daerah lain, mungkin akan terjadi penutupan akses masuk dan keluar wilayah.

“Dilihat dari kebijakan daerah lain juga, itu baru akan memengaruhi kinerja penerbangan. Jika tidak diikuti daerah lain, paling pengetatan protokol. Kita tetap menanti rinciannya (aturan),” kata Edward.

Apabila permintaan mengalami penurunan, menurut dia, maskapai akan melakukan pengurangan rute yang terdampak.

“Sampai saat ini kami belum mendapat informasi detailnya, tapi kami menganalisis dari PSBB yang awal dulu. Jadi yang kita lihat kebijakankebijakan antardaerahnya akan saling memengaruhi atau enggak. Itu kan faktor orang akan melakukan perjalanan atau mengurungkan niatnya,” jelasnya.

“Untuk Lion Air sendiri, load factor penumpang pesawat rata-rata masih berada di bawah 70%,” imbuh Edward. (Ant/E-2)

BERITA TERKAIT