12 September 2020, 06:26 WIB

Partai Amien Rais Diduga Dompleng PAN


Ant/Medcom/P-2 | Politik dan Hukum

POLITIKUS senior Amien Rais mengumumkan dirinya dan beberapa sahabatnya berencana mendirikan sebuah partai politik baru dengan asas partai ialah Islam rahmatan lil alamin atau Islam sebagai rahmat bagi semesta alam.

Dalam akun Youtube yang terpantau kemarin, Amien menjelaskan mereka menaruh perhatian terhadap perkembangan kondisi bangsa dan negara Indonesia saat ini. Menurut dia, kondisi bangsa berada di ambang krisis sosial, politik, dan ekonomi.

“Selain itu, kekuasaan yang sedang memikul harapan rakyat juga semakin menjauhi nilai-nilai etika yang baik dan adil,” ujarnya.

Amien mengatakan nama, logo, ataupun AD/ART parpol tersebut belum dapat diungkapkan sekarang. Meski begitu, santer terdengar Amien dkk menggunakan PAN Reformasi sebagai nama parpol mereka.

Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Viva Yoga Mauladi menilai wajar Amien Rais tetap membawa-bawa nama PAN. Partai berlambang matahari putih tersebut memiliki basis massa yang kuat.

‘Sejak Pemilu 1999 sampai 2019, (PAN) lolos di DPR,’ kata Viva Yoga dalam keterangan tertulis, kemarin.

Wakil Ketua Komisi IV DPR periode 2014-2019 itu mengakui ada potensi pemilih PAN berpindah ke partai baru yang dibentuk Amien Rais. Namun, dia meyakini angkanya tidak signifikan. “Karena masyarakat akan menilai bahwa itu adalah partai politik baru, bukan PAN yang asli,” ungkap dia.

Viva Yoga meminta Amien Rais meniru Partai NasDem, Gerindra, dan Hanura. Ketiga partai tersebut berhasil menjadi partai besar tanpa berharap kecipratan pemilih Golkar sekadar lewat nama.

Pengamat politik dari Indonesian Public Institute (IPI) Karyono Wibowo menilai partai baru kendati didirikan tokoh senior PAN Amien Rais, akan sulit berkembang atau maju bila gagal membangun diferensiasi yang dapat menarik simpati publik.

Karyono menduga langkah Amien membentuk partai berasaskan Islam ialah untuk merebut suara signifikan dari basis Muhammadiyah dan golongan umat Islam lainnya. Itu tidak mudah karena basis pemilih Muhammadiyah telah menyebar ke sejumlah partai.

“Tampaknya tidak semudah membalikkan telapak tangan,” ujar Karyono. (Ant/Medcom/P-2)

BERITA TERKAIT