12 September 2020, 05:00 WIB

Ketidakpastian Dorong Kenaikan Defisit Anggaran


Mir/X-3 | Ekonomi

SETELAH mempertimbangkan berbagai ketidakpastian di tahun depan yang dikhawatirkan berimbas terhadap pendapatan negara, pemerintah bersama Badan Anggaran (Banggar) DPR menyepakati penaikan defisit 0,2% dalam postur sementara APBN 2021.

“Dari sisi pendapatan terjadi perubahan. Defi sit anggaran naik 0,2% dari yang disampaikan Presiden, yakni menjadi 5,7%. Ada penambahan pembiayaan Rp35,2 triliun sebagai penyesuaian dari naiknya defisit,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam rapat kerja bersama Banggar DPR tentang Pembicaraan Tingkat I RUU APBN 2021, kemarin.

Defisit yang semula dipatok 5,5% menjadi 5,7% atau setara Rp1.006,4 triliun. Pelebaran defisit disebabkan pendapatan negara di 2021 menurun Rp32,7 triliun menjadi Rp1.743,7 triliun dari RAPBN 2021 sebesar Rp1.776,4 triliun. Adapun belanja negara naik Rp2,5 triliun dari RAPBN 2021 sebesar Rp2.747,5 triliun menjadi Rp2.750 triliun.

Penurunan pendapatan negara disebabkan berkurangnya penerimaan pajak Rp37,4 triliun menjadi Rp1.444,5 triliun dari sebelumnya di RAPBN 2021 sebesar Rp1.481,9 triliun. Adapun pendapatan negara bukan pajak (PNBP) diasumsikan naik Rp4,7 triliun menjadi Rp288,2 triliun dari perkiraan semula di dalam RAPBN 2021 sebesar Rp283,5 triliun.

Di sisi belanja terjadi kenaikan Rp2,4 triliun menjadi Rp2.749,9 triliun dari yang semula Rp2.747,5 triliun. Kenaikan belanja itu karena tambahan subsidi elpiji 3 kg mencapai Rp2,4 triliun dan penurunan dana bagi hasil (DBH) Rp0,8 triliun karena perubahan pendapatan negara.

Dalam menanggapi penaikan defi sit anggaran, ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai pemerintah perlu memikirkan anggaran vaksin pada 2021.

“Perkiraan tingginya permintaan vaksin akan mendorong belanja. Tersedianya vaksin merupakan salah satu langkah krusial dalam pemulihan perekonomian nasional,” tutur Josua.

Josua menambahkan kesepakatan memperlebar defisit itu harus pula didasari upaya untuk mengungkit perekonomian domestik, baik dari sisi permintaan maupun produksi. “Pertumbuhan ekonomi pada 2021 diperkirakan di kisaran 3%-4%. Tetapi ini sangat tergantung penanganan covid-19 dan produktivitas stimulus ekonomi.” (Mir/X-3)

BERITA TERKAIT