12 September 2020, 00:10 WIB

109 Dokter Meninggal akibat Covid-19


Suryani Wandari Putri | Humaniora

PANDEMI covid-19 yang telah melanda Indonesia sejak awal tahun ini merenggut sebanyak 109 dokter yang merupakan garda terdepan dalam memerangi virus yang belum ditemukan vaksinnya itu. 

Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) mengungkapkan bahwa para dokter yang meninggal tersebut terhitung sejak Maret hingga 10 September 2020 akibat terpapar covid-19.

Ketua Tim Mitigasi PB IDI dr Adib Khumaidi SpOT mengungkapkan data didapat setelah diadakan survei di berbagai faskes yang tersebar di seluruh Indonesia. Dari 109 dokter yang dinyatakan meninggal, sebanyak 49 orang merupakan dokter spesialis, 53 orang merupakan dokter umum, dan 7 orang merupakan guru besar.

Kondisi itu tentu sangat mengkhawatirkan, mengingat kurva penambahan warga yang terpapar virus korona hingga saat ini terus bertambah. Di sisi lain, dalam kondisi normal (nonpandemi) jumlah dokter di Indonesia jika dibandingkan dengan jumlah warga rasionya sangat kecil.

Adib menambahkan untuk sebaran kematian tertinggi, Jawa Timur menjadi wilayah dengan jumlah dokter meninggal terbanyak, yaitu 29 jiwa, disusul Sumatra Utara (20 dokter), kemudian DKI Jakarta (13 dokter).

“Terpaparnya para dokter bisa terjadi saat menjalankan pelayanan, baik itu pelayanan yang langsung menangani pasien covid-19 di ruang-ruang perawatan (isolasi maupun ICU), atau dari tindakan medis yang ternyata belakangan diketahui kalau pasiennya terpapar covid-19, maupun pelayanan nonmedis, seperti dari keluarga dan komunitas,” kata Adib melalui pernyataan pers yang dikutip di Jakarta, kemarin.

Adib menjelaskan bahwa gambaran tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan dokter saat ini memiliki risiko yang sangat tinggi untuk terpapar covid-19, di samping angka OTG (orang tanpa gejala/asimtomatik carier) yang tinggi dan kian meningkat. 

Lebih lanjut Adib berharap supaya pemerintah dapat lebih bersikap tegas dengan menindak masyarakat yang tidak menerapkan protokol kesehatan. Tingginya angka kematian dokter tersebut sempat viral di media sosial. Warganet juga menyayangkan adanya perbedaan data antara Kementerian Kesehatan dan IDI terkait dengan angka kematian dokter.

“Pemerintah harusnya bekerja erat dengan dokter dan membuat kebijakan yang menenteramkan di saat pandemi ini,” komentar seorang warganet.

Salah satu yang diperbincangkan warganet ialah dr Machmud yang merupakan dokter spesialis bedah saraf yang bertugas di Kediri, Jawa Timur. Setelah menjalani perawatan selama 21 hari setelah terpapar korona, dr Machmud meninggal dunia pada Rabu (9/9).


Perubahan perilaku

Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid-19 Sonny Harry Harmadi mengatakan perubahan perilaku ialah ujung tombak dalam melawan penyebaran covid19. Perubahan perilaku diyakini bisa menurunkan penyebaran covid-19 hingga 85%.

 “Kalau kita melakukan itu (perubahan perilaku), menerapkan 3M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak), kita telah menurunkan risiko tertular covid-19 sampai 85%,” terang Sonny dalam Bincang Sore di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kemarin.

Menurutnya, perilaku yang paling sulit untuk diubah ialah menjaga jarak. Masih banyak orang tidak menyadari bahwa ketika bertemu teman, mereka tidak mengindahkan jaga jarak.

Saat ini masyarakat belum menjalankan 3M dengan sempurna. Padahal, penularan ini bisa dihentikan ketika manusia bisa mengendalikan dirinya lewat penerapan protokol kesehatan.

“Perubahan perilaku ini dengan sasaran kebijakan terjadi pada intervensi individu, keluarga, institusi, wilayah, dan komunitas,” pungkasnya. (Fer/Bay/H-1)
 

BERITA TERKAIT