11 September 2020, 10:48 WIB

Relawan Vaksin Positif Covid-19 Jadi Bahan Evaluasi Uji Klinis


Ferdian Ananda Majni | Humaniora

TEMUAN relawan uji klinis vaksin covid-19 dari Sinovac yang positif covid-19 harus dijadikan bahan evaluasi dan analisa besar terhadap efektivitas vaksin tersebut. Hal itu disampaikan Anggota Komisi IX DPR RI Kurniasih Mufidayati.

"Temuan ini harus ditindaklanjuti dengan kajian mendalam. Mencari penyebabnya sehingga uji klinis vaksin bisa semakin disempurnakan," kata Mufida dalam keterangan resmi, Jumat (11/9).

Mufida berharap temuan tersebut tidak membuat uji klinis vaksin dari Sinovac berjalan mundur.

Proses uji klinis vaksin ini harus terus didukung namun harus lebih teliti dan diperdalam analisanya dengan strain kondisi yang ada di Tanah Air. Mengingat vaksin Sinovac ini impor dari negara lain dan fase uji klinisnya dilanjutkan di Indonesia

Baca juga: Kasus Aktif Covid-19 Indonesia Lebih Baik Dari Rata-Rata Dunia

"Harus tetap didukung untuk memenuhi kebutuhan mendesak dalam menghadapi pandemi covid-19 di Indonesia. Tapi harus lebih teliti. Sehingga diharapkan kuartal pertama 2021 sudah bisa diajukan ke BPOM. Targetnya 70-80% penduduk harus tercover imunisasi nantinya," ujar politisi PKS itu.

Vaksin Sinovac diharapkan menjadi vaksin antara sambil menunggu produk bangsa yaitu vaksin Merah Putih yang dilakukan Lembaga Eijkman bekerja sama dengan Biofarma meskipun bersifat jangka panjang.

"Proses penelitian dan pengembangan vaksin milik negeri sendiri itu harus terus didukung dalam jangka panjang demi semangat kedaulatan vaksin. Kemandirian bangsa dan negara harus terus ditingkatkan,” papar Mufida.

Mufida juga meminta agar privasi para relawan tetap dijaga dan hanya diketahui untuk kepentingan penelitian.

Mufida mengingatkan dukungan terhadap pengembangan vaksin bukan lantas melakukan relaksasi terhadap protokol kesehatan di masyarakat.

Sampai uji klinis berhasil, Mufida meminta ada pengetatan terhadap kepatuhan protokol kesehatan termasuk pemberlakukan PSBB total seperti yang dilakukan DKI Jakarta.

"Dukungan untuk pengembangan vaksin di dalam negeri perlu diperbesar, saat yang sama perlu terus dikampanyekan penerapan protokol kesehatan di massyarakat dan pengetatan penerapan PSBB kembali. Jangan sampai kampanye vaksin ini membuai masyarakat menjadi abai terhadap protokol kesehatan," pungkas Mufida. (OL-1)

BERITA TERKAIT