11 September 2020, 09:46 WIB

Kasus Cabuli Anak Terkatung 4 Tahun, Pengacara Gugat Penegak Hukum


Gabriel Langga | Nusantara

KASUS pencabulan anak di bawah umur yang  menimpa EDJ warga Wolo Kiro, Desa Wolorega, Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka terkatung-katung selama empat tahun di Polres
Sikka dan Kajari Maumere. Tim Advokasi Hukum dan Kemanusiaan (TAHK) untuk EDJ, berencana akan menggugat Kapolri, Kejagung, Kapolres Sikka dan Kejari Sikka.

Ketua Tim Advokasi Hukum dan Kemanusiaan (TAHK) untuk EDJ, Domi Tukan menjelaskan alasan gugatan tersebut lantaran negara dinilai gagal memberikan jaminan kepastian hukum kepada korban. Menurut Domi Tukan, bias dari kasus tersebut, EDJ bersama kedua orang tuanya harus meninggalkan rumah mereka dan kehilangan sumber penghidupan
lantaran teror dari terduga pelaku (JEW) dan keluarga.

"Bayangkan, korban dan keluarganya harus pindah menetap ke tempat lain dan tinggal di rumah orang lain. Hak hak mereka mendapatkan sumber penghidupan
dari kebun mereka. Lalu negara dalam hal ini Aparat Penegak Hukum (APH) ada dimana?" tanya Domi.

Sejatinya menurut Domi, kasus ini terang benderang dan tidak ada halangan untuk diproses secara hukum. Sebab, untuk kasus pemerkosaan dengan korban
anak dibawah umur seperti yang dialami EDJ, satu alat bukti saja seperti pengakuan saksi korban seharusnya sudah cukup memproses hukum.

"Dalam kasus ini sudah ada keterangan korban, visum ET repertum, keterangan bidan, dan saksi lain, lalu apalagi yang kurang? Maka itu kita anggap bahwa
aparat penegak hukum tidak serius menangani persoalan ini sehingga patut untuk kita gugat," tegas Domi, Jumat (10/9) di Kabupaten Sikka, Nusa
Tenggara Timur.

Sementara itu, advokat lainnya yang tergabung dalam TAHK untuk EDJ, Alfons Ase menjelaskan, tim advokasi ini diperluas dengan melibatkan
sejumlah advokat dari Peradi Cabang Sikka-Flotim dan Lembata, Peradin Cabang Sikka dan KAI Cabang Sikka dan beberapa advokat asal Kabupaten Sikka
yang berdomisili di Jakarta.

"Kuasa penunjukan dari korban dan keluarga korban kepada kami diperluas dengan melibatkan teman teman yang lain," jelasnya.

Alfons menambahkan, menariknya  tersangka JEW sudah pernah ditahan selama tiga minggu. Ini berarti penyidik telah mengantongi dua alat bukti sehingga
penyidik memiliki keyakinan untuk menahan tersangka.

"Dalam banyak kasus yang sama, syarat objektif dengan ancaman hukuman di atas 15 tahun seperti yang diatur dalam KUHAP, pelaku harusnya ditahan.
Dalam kasus ini, tersangka sudah memenuhi syarat obyektif. Lalu kenapa tersangka dilepaskan?. Harusnya kalau polisi ragu-ragu, maka pelaku tidak
perlu ditahan. Draf gugatan sedang kita susun, minggu depan kita daftarkan gugatan ke Pengadilan Negeri Maumere" tandas Alvons itu.

Sementara itu, orang tua dari EDJ, Lukas Levi  mengaku pasca peristiwa yang menimpa anaknya tersebut, ia dan keluarganya merasa hidup dalam
bayang-bayang ketakutan lantaran merasa terancam.

baca juga: Tim Lakukan Otopsi Gajah Mati di Kebun Cabai

Semenjak tahun 2018, ia dan keluarganya terpaksa pindah menetap ke kampung Kuru, Desa Magepanda, Kecamatan Magepanda, Sikka hingga kini. Sementara
terduga pelaku hingga kini masih menghirup udara bebas.

"Saya berharap ada keadilan atas apa yang menimpa anaknya empat tahun silam. Pelaku saat ini dibiarkan menghirup udara bebas. Tidak ada tindakan
hukum terhadap pelaku yang mencabuli anaknya, " pungkas Lukas Levi ini. (OL-3)

BERITA TERKAIT