11 September 2020, 00:55 WIB

AS Desak ASEAN Hindari Perusahaan Tiongkok


MI | Internasional

AMERIKA SERIKAT mendesak negara-negara Asia Tenggara untuk memutuskan hubungan dengan perusahaan Tiongkok yang membantu membangun pulau di Laut China Selatan.

Sekitar 20-an perusahaan yang diduga terlibat telah dimasukkan ke daftar hitam AS beberapa minggu lalu. Saat hadir dalam KTT ASEAN, Menteri Luar Negeri Mike Pompeo mengatakan sudah waktunya bagi pemerintah Asia Tenggara untuk mempertimbangkan kembali
hubungan dengan perusahaan yang bekerja di perairan yang disengketakan. 

“Jangan hanya angkat bicara, tapi bertindaklah,” katanya kepada 10 menteri luar negeri ASEAN saat pertemuan virtual.

“Pertimbangkan kembali urusan bisnis dengan perusahaan milik negara yang menggertak negara-negara pesisir ASEAN di Laut Cina Selatan,” tambahnya.

KTT ASEAN tahun ini dibayangi oleh persaingan AS-Tiongkok atas berbagai masalah, mulai perdagangan, virus hingga korona. Hubungan keduanya semakin memanas yang turut meme ngaruhi negara-negara Asia Tenggara.

Ketegangan juga meningkat di Laut China Selatan. AS telah memberi sanksi kepada 24 perusahaan asal Tiongkok yang dikatakan telah membantu pembangunan militer Beijing di Laut China Selatan.

Sementara Beijing beberapa hari sebelumnya telah meluncurkan rudal balistik di Laut China Selatan sebagai bagian dari latihan militer. Vietnam, yang mengetuai KTT, menyatakan keprihatinan serius terkait militerisasi di Laut China Selatan.

“Ini telah mengikis kepercayaan, meningkatkan ketegangan dan merusak perdamaian, keamanan, dan supremasi hukum di kawasan itu,” kata Menteri Luar Negeri Pham Binh Minh.

Di sisi lain, Filipina mengatakan pekan lalu bahwa mereka tidak akan mengikuti jejak AS soal boikot karena mereka membutuhkan investasi Tiongkok. Bahkan ketika terjadi perselisihan baru antara kedua negara mengenai Scarborough Shoal salah satu daerah penangkapan ikan terkaya di kawasan itu, Filipina memilih untuk melakukan pembicaraan damai.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi menyalahkan AS atas ketegangan tersebut. Dia mengklaim Washington menjadi pendorong terbesar militerisasi jalur perairan itu.

Tiongkok mengklaim mayoritas dari Laut China Selatan dengan klaim sejarah. Wilayah itu diklaim oleh Vietnam, Filipina, Malaysia, Brunei, dan Taiwan. (AFP/Van/X-11)

BERITA TERKAIT