10 September 2020, 21:30 WIB

Eksperimen Penting, Laboratorium Virtual Jadi Solusi PJJ Kampus


Syarief Oebaidillah | Humaniora

PEMBELAJARAN jarak jauh (PJJ) selama pandemi covid 19 menjadi tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan. Di kalangan perguruan tinggi, kendala terberat dialami oleh program studi sains, ilmu pasti dan teknologi informasi karena minimnya praktek dan eksperimen.

Pemerhati pendidikan tinggi Totok Amien Soefianto menyampaikan hal itu kepada Media Indonesia, belum lama ini. "Kendala PJJ di perguruan tinggi tergantung bidang studinya. Untuk ilmu-ilmu sosial tampaknya tidak begitu berkurang kualitasnya. Berkurang tapi tidak signifikan. Kalau bidangnya ilmu pasti, sains dan teknologi, ini yang relatif jauh berkurang kualitasnya karena kesulitan untuk praktek dan eksperimen," ujarnya.

Sebab itu, Totok mengingatkan pimpinan universitas harus kreatif menerapkan teknologi terbaru untuk eksperimen secara virtual. Dia mencontohkan universitas di Amerika Serikat menerapkan laboratorium virtual untuk berbagai bidang sains dan teknologi.

"Ada banyak aplikasi untuk itu. Tapi, metode belajar yang terbaik tetap tatap muka. Kalaupun harus dilakukan, tentu kapasitasnya jauh berkurang dan harus menerapkan protokol kesehatan, " cetusnya.

Dosen Universitas Paramadina Jakarta ini mengemukakan kebanyakan sesi perkuliahan sekarang sudah terbiasa dengan pertemuan virtual daring. Sehingga dosen harus juga aktif menyiapkan materi secara digital agar bisa disampaikan ke mahasiswa melalui media daring.

Dosen, kata Totok, harus kreatif mencari bahan dan memikirkan cara agar mahasiswa paham dan menguasai materi yang diajarkan. Di sisi mahasiswa, mereka harus juga disiplin dalam mengikuti sesi perkuliahan karena tidak ada yang mengawasi langsung seperti tatap muka.

Mutu
Terkait kemungkinan PJJ akan berlangsung lama, Totok menilai, sistem TIK harus diperkuat terus, terutama dari sisi pengajaran atau delivery ke mahasiswa. Kelas virtual harus semakin baik dan tanpa gangguan, sehingga dosen dan mahasiswa dapat berinteraksi dengan baik yang berlangsung (synchronous) atau tidak langsung (asynchronous).

"Hasil pembelajaran nantinya diukur dari kompetensi mahasiswa. Kalau hasilnya kurang, maka harus dipikirkan mitigasinya. Tidak dibiarkan begitu saja, karena ini menyangkut mutu sarjana kita di masa depan, " pungkas Totok. (H-2)

BERITA TERKAIT