10 September 2020, 07:12 WIB

Pengungsi di Yunani Kehilangan Tempat Tinggal Akibat Kebakaran


Faustinus Nua | Internasional

RIBUAN pengungsi kehilangan tempat tinggal setelah kebakaran melanda Moria, sebuah kamp pengungsi yang terkenal sangat padat di Pulau Lesbos, Yunani, Rabu (9/9).

Moria menjadi rumah bagi sekitar 13.000 pengungsi. Mereka telah tinggal di ruang yang dirancang hanya untuk kurang dari 3.000 orang.

Asal muasal api, yang dimulai di dalam kamp pada Selasa (8/9) malam, menyebar dengan cepat melalui lereng bukit yang padat. Area yang cukup luas itu dilahap api hingga rata dengan tanah, ungkap laporan dari pejabat bahwa sekitar 70% kontainer dan tenda telah hancur.

Baca juga: Malaysia: Krisis Rakhine State Bisa Ancam Stabilitas ASEAN

"Situasinya tidak tertahankan dan sulit bagi kami. Saat ini, kami tunawisma di jalan," kata Mohammad Hanif Joya, pengungsi asal Afghanistan berusia 35 tahun.

"Kami hanya menyelamatkan anak-anak dan diri kami sendiri. Semua pakaian dan barang kami terbakar dalam api," tambah Joya, seraya mengungkapkan mereka tidak punya makanan dan air.

"Moria terbakar habis," katanya. "Semua orang di jalan di bawah terik matahari."

Dia menambahkan, demonstrasi damai direncanakan digelar pada sore ini.

Penghuni kamp melarikan diri setelah kebakaran terjadi, dengan membawa beberapa barang yang mereka bisa.

Omid Alizada, pengungsi asal Afghanistan juga mengaku tidak memiliki apa-apa. Dia duduk di sisi jalan antara Moria dan Kota Mytilene bersama ribuan orang lainnya dari kamp.

"Kami pergi tanpa apa-apa, hanya pakaian di tubuh kami. Ribuan orang menyelamatkan hidup mereka dari api besar ini, mereka berkeliaran di jalanan dan meninggalkan kamp untuk pergi ke Mytilene," tuturnya.

Ada laporan yang belum dikonfirmasi bahwa terjadi blokade yang diprakarsai polisi di sepanjang jalan antara Moria dan Mytilene, yang mencegah pengungsi mencapai kota.

Kebakaran membawa tragedi baru bagi penghuni kamp pengungsi, setelah pembatasan dan karantina akibat wabah covid-19 yang terus meningkat. Hingga Selasa (8/9), setidaknya ada 35 kasus yang dikonfirmasi di kamp tersebut.

Menanggapi kebakaran tersebut, Ylva Johansson, Komisaris Eropa untuk Urusan Dalam Negeri, mencicit bahwa pihaknya telah setuju mengambil langkah segera.

Eropa akan membiayai perpindahan 400 anak dan remaja yang tersisa tanpa pendamping ke daratan, jumlah yang akan mencakup akomodasi.

"Keamanan dan perlindungan semua orang di Moria adalah prioritas," katanya.

Perdana Menteri Yunani Kyriakos Mitsotakis memanggil para menteri untuk pertemuan darurat.

Faris al-Jawad dari Doctors Without Borders, yang dikenal dengan inisial bahasa Prancisnya, MSF, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa kelompoknya masih belum mengetahui dengan jelas apakah ada korban luka atau kematian.

Sebagian besar penduduk Moria berada di jalan antara Moria dan Kota Mytilene, katanya, dengan beberapa orang sekarang kembali ke lokasi tersebut untuk mengumpulkan barang yang bisa mereka selamatkan.

"Setelah lima tahun menjebak orang dalam kondisi biadab dan tidak manusiawi, pada titik tertentu hal seperti ini tidak bisa dihindari," katanya.

"Tampaknya tidak mungkin bagi setiap orang untuk kembali ke Moria besok, semua orang perlu dievakuasi ke tempat yang aman di daratan atau ke negara Uni Eropa lainnya."

Ali Mustafa, warga Moria berusia 19 tahun, mengatakan dia sama sekali tidak tidur.

"Saya melihat hal-hal buruk dengan mata saya," katanya. "Tidak ada yang tersisa dan sebagian besar orang tidur di jalanan, mereka tidak punya uang untuk membeli apa pun, mereka kehilangan segalanya tadi malam." (AlJazeera/OL-1)

BERITA TERKAIT