10 September 2020, 05:00 WIB

Gas Alam Membakar Kawasan Hutan


DG/DW/PO/N-3 | Nusantara

SELASA (8/9), hutan di Gunung Tangkuban Parahu, di wilayah Kabupaten Bandung Barat, Ja­wa Barat, berkobar. Api membakar kawasan seluas 0,5 hektare.

Berbeda dengan peristiwa kebakaran hutan lain, menurut Administratur Perhutani Kawasan Pemangku Hutan Bandung Utara, Komarudin menyatakan hutan terbakar karena energi panas bumi. “Gas alam keluar dari dalam tanah dan membakar tanaman paku serta alang-alang.”

Untuk mencegah terulangnya kejadian itu, petugas sudah melakukan pendinginan di lokasi. Sumber air juga sudah dilokalisasi.

Kebakaran berada di wilayah Desa Karyawangi, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat. “Pe­­madaman berlangsung 1,5 jam oleh petugas, relawan, dan warga,” sambung Komarudin.

Titik energi panas bumi yang di­­du­ga menjadi pemicu kebakaran ke­­luar dari sela-sela bebatuan dan membakar alang-alang. “Sumber api dari gas aktif Gunung Tangkuban Parahu,” tandasnya.

Anggota SAR Pasundan, Asep Kos­wara, menambahkan untuk mencegah kejadian berulang, alang-alang yang tumbuh di sekitar sumber pa­nas bumi sudah dibersihkan. “Gas alam yang keluar dari dalam tanah masih terus terjadi dan tidak bisa dihentikan.”

Ia memastikan kebakaran hutan tidak ada hubungannya dengan akti­vitas gunung. “Jarak antara lokasi kejadian dengan kawah Tangkuban Parahu cukup jauh.”

Si Pakar Hutan

Sumatra Selatan juga terus berusaha memiminalkan kejadian ke­bakaran hutan dan lahan. Salah satu upayanya, kemarin, Dinas Kehutanan membangun Sistem Informasi Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan (Si Pakar Hutan) sebagai upa­ya pencegahan dan penanganan.

“Aplikasi ini merupakan solusi untuk menjawab kebutuhan pemprov terhadap penguatan sistem peringatan dini karhutla,” ujar Kepala Seksi Pengendalian Karhutla Syafrul Yunardi.

Dinas Kehutanan belajar dari bencana kebakaran 2015-2019. Saat itu, peringatan dini luput dalam sistem kebencanaan.

“Bencana sebelumnya itu lah yang menjadi pertimbangan kami membuat sistem ini. Selain itu, Si Pakar Hutan juga untuk mendukung keterbukaan informasi publik sehingga masyarakat dapat memantau pengendalian kebakaran,” tambah Syafrul.

Hutan dan lahan di Nusa Tenggara Timur juga belum bisa lepas dari ancaman kebakaran. Kemarin, titik panas yang diduga akibat kebakaran muncul di wilayah Lembata, Sumba Timur, Manggarai Barat, dan Sumba Tengah.

“Titik panas hari ini jumlahnya berkurang jika dibandingkan titik panas yang muncul pada Selasa, yang menyebar di enam kabupaten,” kata Kepala Stasiun Meteorologi El Tari Kupang, Agung Sudiono Abadi.

Kepala Taman Nasional Matalawa, Sumba, Memen Suparman, mengatakan selama satu pekan terakhir terdeteksi enam titik panas di Sumba, namun bukan di area taman nasional.

“Api pernah muncul di kawasan taman nasional pada 26 Agustus, tapi bisa langsung dipadamkan petugas. Kami terus waspadai dan mengantisipasi,” ujarnya. (DG/DW/PO/N-3)

BERITA TERKAIT