10 September 2020, 03:19 WIB

Berpulangnya Guru Pers Indonesia


Dewan Redaksi Media Group Suryopratomo | Humaniora

GURU bagi Pak Jakob Oetama merupakan sebuah panggilan hidup. Jauh sebelum menjadi wartawan, ia seorang pendidik. Ia mengajar di SMP Mardi Yuana di Cipanas, Jabar, dan juga SMP Van Lith di Matraman, Jakarta.

Tidak heran apabila ia menerapkan pendekatan pendidikan saat mendirikan majalah Intisari dan harian Kompas. Apalagi, yang diajak ikut menggeluti jurnalistik adalah guru seperti Pak Adi Subrata.

Pesan yang selalu disampaikannya ‘menjadi wartawan ialah panggilan hidup’. Ketika seseorang memilih wartawan sebagai profesi, pekerjaan itu harus dijalani dengan tanggung jawab.

Mengapa? Karena tugas pertama yang harus dilakukan wartawan ialah menghasilkan karya jurnalistik yang bisa mencerdaskan

Saat mendapat gelar doktor honoris causa dari Universitas Gadjah Mada pada 2003, pesan itulah yang Pak Jakob sampaikan dalam pidato pengukuhannya. Menurut Pak Jakob, ketika menulis berita, wartawan itu harus selalu berada dalam kondisi in fear and trembling in anguish. Mengapa harus takut dan gelisah? Karena ketika keliru menulis berita, ia akan membuat pembacanya salah dalam memahami masalah.

Bagaimana agar wartawan selalu bisa menulis secara benar dan akurat? Pak Jakob selalu mengingatkan agar menulis harus didasari oleh niat yang baik. Pekerjaan seorang wartawan itu merupakan pekerjaan mulia. Oleh karena itu, kita harus selalu melakukannya dengan niat yang bersih.

Hal lain yang harus selalu menjadi bagian dari pekerjaan wartawan ialah sikap totalitas. “Tuhan itu tidak suka kepada orang yang bekerja setengah-setengah,” begitu pesan yang sering disampaikan dengan welas asih agar kita memahaminya.

Kesamaan antara ucapan dan tindakan, itulah yang membuat kami menginternalisasi pesan yang disampaikan berulang-ulang oleh Pak Jakob.

Ia memang sosok pemimpin yang bekerja dengan sepenuh hati. Pernah pada 23 Juli 2001 Pak Jakob meminta izin berlibur ke Bali. Suasana di Jakarta sebenarnya sedang tegang karena perseteruan antara parlemen dan Presiden Abdurrahman Wahid. Presiden Gus Dur ketika itu mengancam akan mengeluarkan dekrit untuk membubarkan parlemen.

Senin siang, Gus Dur ternyata benar-benar mengeluarkan dekrit. Pak Jakob ketika itu baru saja mendarat di Bandara Ngurah Rai. “Saya pulang kembali ke Jakarta, Mas Tommy. Nanti saya yang menulis Tajuk Rencana,” kata Pak Jakob.

Kesederhanaan juga merupakan ciri kehidupan Pak Jakob. Nilai-nilai kepedulian kepada sesama menonjol kuat. Ia tidak pernah merasa bosan untuk membantu dunia pendidikan. Dalam menjalankan bisnis, prinsip yang diterapkan, yaitu untung bukanlah tujuan, tetapi akibat dari kesungguhan dalam bekerja.

Kepergian Pak Jakob tentu merupakan kehilangan sangat berarti bagi pers Indonesia. Namun, pikiran besar, nilai-nilai yang ditinggalkan akan terus mewarnai pers nasional. Selamat jalan Pak Jakob. Doa kami menyertai perjalanan Pak Jakob kembali ke rumah yang abadi . (X-11)

BERITA TERKAIT