10 September 2020, 01:13 WIB

Wakil Presiden Afghanistan Lolos dari Serangan Bom di Kabul


Faustinus Nua | Internasional

SEBUAH bom pinggir jalan di Kabul menargetkan Wakil Presiden Afghanistan pertama Amrullah Saleh pada Rabu (9/9). Akan tetapi, dia berhasil lolos tanpa cedera dari serangan yang menewaskan sedikitnya 10 orang.

"Hari ini, sekali lagi musuh Afghanistan mencoba untuk menyakiti Saleh, tetapi mereka gagal dalam tujuan jahat mereka, dan Saleh lolos dari serangan itu tanpa cedera," tulis Razwan Murad, juru bicara kantor Saleh, di Facebook.

Dia mengatakan bahwa bom itu menargetkan konvoi Saleh dan beberapa pengawalnya terluka. Saleh muncul dalam sebuah video di akun media sosialnya setelah itu, dan mengatakan dia mengalami luka bakar ringan di wajahnya dan cedera di tangannya dalam serangan itu.

Mantan kepala intelijen dan senior dua wakil presiden Presiden Ashraf Ghani itu telah selamat dari beberapa upaya pembunuhan. Salah satunya adalah upaya pembunuhan di kantornya tahun lalu yang menewaskan 20 orang.

Kementerian Keamanan mengkonfirmasi bahwa ledakan Rabu telah menewaskan sedikitnya 10 warga sipil dan melukai 15 orang termasuk penjaga keamanan Saleh.

Baca juga ; Menlu RI: Myanmar Merupakan Rumah bagi Warga Rohingya

"Serangan semacam itu tidak akan melemahkan tekad kami untuk perdamaian yang langgeng dan bermartabat di Afghanistan," kata Javid Faisal, juru bicara Dewan Keamanan Nasional.

Sementara itu, pasukan pemberontak Taliban membantah terlibat dalam serangan itu, yang terjadi tepat sebelum pembicaraan damai yang telah lama ditunggu antara pemerintah Afghanistan dan Taliban di ibu kota Qatar, Doha. Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengatakan dalam sebuah posting di Twitter bahwa pejuang Taliban tidak terlibat dalam ledakan itu.

Kekuatan internasional termasuk Uni Eropa dan Pakistan juga mengutuk serangan itu. UE mengharapkan kekuatan bersama untuk menuntaskan kekerasan dari para pemberontak.

"Ini adalah serangan terhadap Republik, dan tindakan putus asa oleh perusak upaya perdamaian, yang harus dihadapi secara kolektif," kata Delegasi UE di Afghanistan dalam sebuah pernyataan di Twitter.

Para pejabat dan diplomat telah memperingatkan bahwa kekerasan yang meningkat melemahkan kepercayaan untuk mengakhiri pemberontakan setelah Taliban digulingkan dari kekuasaan di Kabul oleh pasukan yang didukung AS pada akhir 2001.(France24/OL-2)

 

BERITA TERKAIT