09 September 2020, 23:38 WIB

Ekonomi Digital Bisa Jadi Motor Pemulihan Ekonomi Pascapandemi


Syarief Oebaidillah | Ekonomi

PANDEMI Covid-19 memberikan dampak yang signifikan pada berbagai aspek di Indonesia. Mulai dari kesehatan, sosial, dan ekonomi.

Di sektor ekonomi, tak sedikit pelaku bisnis yang harus menelan kerugian hingga gulung tikar akibat pandemi Covid-19. Bendahara Umum Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Azka Aufary Ramly mengatakan, survival bisnis sangat bergantung pada kemampuan dan kecepatannya untuk beradaptasi dengan kondisi pasar agar dapat mempertahankan kelangsungan, produktivitas maupun menjaga profitabilitas bisnis.

Salah satu bentuk adaptasi yang disarankannya ialah dengan mengadopsi digitalisasi,

"Saat ini masyarakat mengalami perubahan disrupsi dalam skala besar melalui digital menjadi andalan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, " ujar Azka dalam keterangannya kepada wartawan, Rabu (9/9).

Ia menjelaskan, fakta di lapangan menunjukkan bahwa dunia sedang mengalami transformasi dari ekonomi tradisional ke arah ekonomi digital karena berbagai alasan. Pertama, penggunaan teknologi digital akan memperbaiki proses produksi dan meningkatkan efisiensi, sehingga biaya produksi menjadi lebih murah dan keuntungan semakin meningkat.

Kedua, ketergantungan manusia pada teknologi informasi dan komunikasi sudah tidak bisa dipisahkan lagi sehingga mau tidak mau sebanyak mungkin aktivitas manusia dilakukan melalui teknologi digital. Ketiga, faktor social distancing di era normal baru membuat physical contactless semakin diminati masyarakat, sehingga korporasi akan berlomba-lomba mengembangkan inovasi dan proses bisnis yang berbasis teknologi digital.

Baca juga : Menggerakkan UMKM Sebagai Dinamisator Ekonomi di Kala Pandemi

Keempat, bukti empiris dari berbagai studi dan penelitian memperlihatkan bahwa adopsi teknologi digital memiliki korelasi yang kuat dengan pertumbuhan ekonomi dunia. Oleh karena itu, prospek ekonomi digital sebagai sumber pertumbuhan ekonomi di era normal baru sangat menjanjikan.

Kelima, globalisasi ekonomi masih diperlukan oleh semua negara untuk mendukung kesejahteraan seluruh umat manusia sehingga ke depan ekonomi digital akan menjadi fondasi konektivitas dan perdagangan lintas negara.

"Kita bisa melihat cerita sukses dari industri e-commerce yang mendapatkan momentum pertumbuhan luar biasa saat pandemi, dan saat industri lain mengalami kejatuhan," jelas Azka yang juga pengurus teras DPP AMPI.

Dia mencontohkan ,Amazon, toko online terbesar di Amerika Serikat, membukukan kenaikan penjualan 26% selama kuartal I-2020, dan sanggup merekrut 175.000 pegawai baru saat korporasi lain terpaksa melakukan PHK.

Total transaksi Shopee di enam negara di Asia Tenggara termasuk Indonesia dan Taiwan meningkat dari US$ 203,5 juta menjadi US$ 429,8 juta atau naik 111,2%.

Begitupun,jumlah konsumen Alibaba Group di Tiongkok naik dari 654 juta menjadi 726 juta pada periode yang sama, dan menargetkan 2 miliar konsumen serta pembukaan 100 juta lowongan kerja baru di dunia dalam lima tahun ke depan.(OL-7)

BERITA TERKAIT