09 September 2020, 23:19 WIB

Kampus Merdeka dan Reka Cipta Dorong Transformasi Perguruan Tinggi


Syarief Oebaidillah | Humaniora

KEMENTERIAN Pendidikan Tinggi dan Kebudayaan terus berupaya membuat perguruan tinggi semakin relevan dengan kebutuhan dunia industri dan dunia kerja. Kebijakan Kampus Merdeka dan penerapan ekosistem reka cipta pun kini semakin digencarkan.

“Transformasi pendidikan tinggi saat ini tengah dilakukan dalam rangka implementasi kebijakan Kampus Merdeka,” kat aSekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud Paristiyanti Nurwardani, pada sambutan pelaksanaan penandatanganan nota kesepahaman bersama Swa Group di Jakarta, Rabu (9/9).

Penandatanganan nota kesepahaman antara Ditjen Dikti Kemendikbud dengan SWA merupakan bagian upaya membangun kolaborasi dengan semua pemangku kepentingan guna membangun ekosistem reka cipta di tanah air, juga mendorong peran serta dunia industri serta inovator untuk menumbuhkan reka cipta di perguruan tinggi.

Paristiyanti menjelaskan, saat ini pihaknya tengah membangun sebuah ekosistem reka cipta sebagai implementasi dari kontribusi visi kampus merdeka yang memberikan kebermanfaatan dan kesejahteraan masyarakat melalui karya cipta anak negeri dalam semangat membangun kemandirian bangsa.

“Dengan adanya link and match melalui gotong royong penta-helix antara perguruan tinggi dengan dunia industri diharapkan reka cipta yang dihasilkan dapat selaras dengan kebutuhan berbagai pihak untuk menjawab berbagai tantangan saat ini khususnya pengembangan reka cipta ditengah pandemi Covid-19,” jelas Paris.panggilan akrabnya

Baca juga : Kota Tua Jadi Ruang Publik Pengutamaan Bahasa Negara

Menurutnya, proses pembelajaran dalam Kampus Merdeka merupakan salah satu perwujudan pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa (student centered learning) yang sangat esensial.

Pembelajaran dalam Kampus Merdeka memberikan tantangan dan kesempatan untuk pengembangan inovasi, kreativitas, kapasitas, kepribadian, dan kebutuhan mahasiswa, serta mengembangkan kemandirian dalam mencari dan menemukan pengetahuan melalui kenyataan dan dinamika lapangan seperti persyaratan kemampuan, permasalahan riil, interaksi sosial, kolaborasi, manajemen diri, tuntutan kinerja, target dan pencapaiannya.

“Tujuan kebijakan Kampus Merdeka, terutama program hak belajar tiga semester di luar program studi adalah untuk meningkatkan kompetensi lulusan, baik soft skills maupun hard skills, agar lebih siap dan relevan dengan kebutuhan zaman, menyiapkan lulusan sebagai pemimpin masa depan bangsa yang unggul dan berkepribadian,” pungkas Paris.

Adapun Tim Kerja Akselerasi Reka Cipta Indonesia Ditjen Dikti Kemendikbud antara lain Achmad Aditya, M.Setiawan, Ade Kadarisman, Mahir Bayasut, dan Willy Sakareza. (OL-7)

BERITA TERKAIT