10 September 2020, 00:10 WIB

Memanfaatkan Limbah Kain Sisa Pakaian


Putri Rosmalia Oktaviani | Humaniora

TREN fesyen di dunia tidak pernah memiliki jeda. Ragam model pakaian terus bermunculan seiring dengan berkembangnya industri-industri fast fashion atau perusahaan yang memproduksi ragam pakaian dengan cepat dan harga terjangkau.

Namun, melesatnya perkembangan industri fesyen juga berbanding lurus dengan tercemarnya lingkungan. Sisa kain yang digunakan untuk membuat pakaian di pabrik-pabrik berskala kecil hingga besar, kerap menimbulkan masalah baru, yakni penumpukan limbah fesyen atau fashion waste.  Begitu juga sisa pakaian yang sudah tidak terpakai oleh konsumen dan menumpuk menjadi limbah fesyen. Di dunia, masalah lingkungan akibat produksi fesyen yang kian masif sudah mulai terasa.

Penelitian yang dilakukan Ellen Macarthur Foundation pada 2015 menyebutkan jumlah produksi pakaian di dunia mengalami peningkatan cepat sejak 2000. Pada 2015, setidaknya 100 miliar potong pakaian diproduksi di seluruh dunia dalam setahun.

Di balik angka produksi tersebut, ada beberapa dampak nyata. Salah satunya jumlah bahan bakar minyak yang digunakan untuk produksi, yakni mencapai 98 juta ton minyak dalam setahun.

Bila tidak ada perubahan perilaku konsumsi pakaian, jumlah bahan bakar yang digunakan untuk produksi produk fesyen pada 2050 diperkirakan akan meningkat hingga 300 juta ton per tahun.

Sementara itu, dari proses pembakarannya, ada sebanyak 1,2 miliar ton karbon dioksida yang dilepas dan memperparah efek rumah kaca. Jumlah itu setara dengan 2% dari total seluruh karbon dioksida yang dihasilkan dari berbagai kegiatan di bumi dalam setahun. 

Bila tidak ada perubahan, jumlahnya akan meningkat hingga mencapai 26% dari total karbon dioksida di bumi pada 2050. Di sisi lain, setidaknya sebanyak 12% dari total pakaian yang terproduksi akan menjadi limbah dan mencemari wilayah daratan dan laut. Hanya sekitar 1% dari total pakaian yang diproduksi setiap tahun yang kemudian didaur ulang.

Menumpuknya pakaian tak layak pakai atau limbah fesyen tersebut yang menjadi alasan bagi Intan Anggita Pratiwie untuk memulai kegiatan daur ulang limbah fesyen. Intan memulai gerakannya sejak 2004 ketika masih duduk di bangku kuliah.

Perempuan kelahiran Bandung tersebut menjelaskan awalnya ia aktif berkegiatan di yayasan bernama Sumbang In atau Salur Indonesia yang saat ini berganti nama menjadi Setali. 

Yayasan tersebut bergerak untuk memberikan sumbangan berupa pakaian dan barang bekas lainnya kepada masyarakat. Yayasan yang berlokasi di Depok, Jawa Barat, tersebut beranggotakan anakanak muda yang peduli akan pemanfaatan barang bekas dengan tepat dan dapat berguna bagi masyarakat.

“Awalnya itu. Lalu karena melihat banyak baju tidak layak menumpuk terlampau banyak di warehouse Seta li, jadi tergerak untuk memulai upcycle dengan fashion waste,” ujar Intan kepada Media Indonesia, Senin (7/9).

Kegiatan yang dilakukan Setali kemudian menjadi lebih fokus pada daur ulang kain-kain sisa pakaian pada tahun kedua yayasan tersebut didirikan. Melalui kerja sama dengan penyanyi Andien, Setali akhirnya mampu mengumpulkan donatur untuk bisa memproduksi ragam fesyen dari limbah kain pakaian bekas.

“Bertransformasi menjadi Setali di tahun kedua, lebih fokus untuk pengelolaan fashion waste karena pakaian yang disumbangkan kala itu 80% tidak layak pakai,” ujarnya.

Intan menceritakan awalnya ia dan rekan-rekannya sempat kesulitan untuk mengelola pakaian yang tidak layak pakai. Namun, akhirnya ia menemukan ide untuk melakukan daur ulang dengan metode upcycling atau menambah nilai benda dengan menambahkan aplikasi atau mengubah bentuk jadi lebih baik.

“Juga dengan metode downcycling atau menurunkan nilai benda, misal, baju menjadi perca kecil atau potongan benangbenang panjang,” tutur Intan.

Intan mengatakan proses menemukan ide untuk membuat gerakannya menjadi seperti saat ini merupakan sebuah proses yang panjang. Menemukan formulasi untuk keberlangsungan Setali yang membuatnya merasa perlu lebih berani dan konsisten mendaur ulang, serta mempelajari inovasi-inovasi untuk menjadi alternatif pengelolaan limbah fesyen.

Seiring dengan waktu, kegiatannya dalam mendaur ulang limbah fesyen menjadi semakin stabil. Bahan-bahan sisa pakaian didapatkannya dari banyak donatur yang memiliki pakaian tak layak pakai.

Mereka umumnya mengantarkan langsung atau menaruh pakaian bekas di drop box milik Setali di kawasan BSD, Tangerang Selatan. Namun, secara berkala, Setali juga menghadirkan drop box di beberapa lokasi lain, seperti di kedai kopi, mal, hingga markas komunitas lain. 

Dalam satu kali pengangkutan, jumlah pakaian bekas yang dikumpulkan bisa mencapai ratusan, bahkan hampir mencapai seribu potong bila drop box dihadirkan di lebih dari tiga titik.

Nantinya, pakaian-pakaian tersebut dipisahkan berdasarkan kondisi. Mulai prioritas, baik,  hingga buruk. Pakaian dengankondisi prioritas atau baik akan disumbangkan atau dijual kembali dan dananya akan dimanfaatkan untuk melakukan daur ulang pakaian dengan kondisi buruk atau tak layak pakai.


Membangun bisnis

Salah satu hal yang telah dapat dilakukannya bersama Yayasan Setali saat ini ialah mendirikan bisnis Sight from the Earth.

Ragam model pakaian masa kini, khususnya yang berbahan dasar denim atau jins, bisa dirangkai dari sisa pakaian bekas dan dipasarkan secara daring melalui akun Instagram @sightfromtheearth dan secara luring di sebuah toko di Jakarta.

Dengan mengangkat tema Reconstructed oldies to goldies, Intan berhasil meningkatkan nilai jual pakaian tak layak pakai menjadi jauh lebih tinggi.

“Sight from the Earth adalah salah satu model bisnis untuk keberlangsungan Yayasan Setali yang mesti bertahan karena ada tim yang berdedikasi khusus dalam pengelolaan fashion waste tersebut,” ujar Intan.

Intan menjelaskan, dalam menjalankan gerakannya, ia tidak hanya bekerja dengan anggota Yayasan Setali, tetapi juga dengan komunitas lain yang juga bergerak di bidang serupa. 

Ragam info, kampanye, serta tutorial mendaur ulang pakaian bekas juga secara rutin ditampilkan di akun Instagram Setali @setali.indonesia.

“Aneka kolaborasi yang kami lakukan sekarang masih di tahap untuk pengumpulan kepedulian agar publik paham betul kalau daur ulang memang pola hidup baik untuk hidup yang lebih berkesadaran, bukan sekadar tren semata. Sebelumnya kami bekerja sama dengan Teras Cerdas (sanggar belajar bagi anak-anak kurang mampu). Setali sendiri memiliki komunitas peduli sustainable fashion yang siap sedia diajak membuat berbagai kampanye atau pun berkegiatan menyebarkan misi-misi Setali,” ujarnya.

Untuk membuat produkproduknya, Intan juga mengaryakan penyedia jasa permak jins keliling. Dengan begitu, dampaknya bisa dirasakan dengan lebih luas oleh orang banyak secara ekonomi. Selain itu, dengan terus memproduksi pakaian daur ulang, akan semakin banyak
limbah fesyen yang termanfaatkan sehingga tak mengotori lingkungan. (M-4)

 

BERITA TERKAIT