09 September 2020, 11:05 WIB

Cegah Klaster Covid-19 Pilkada 2020, Polri Keluarkan Telegram


Yakub Pryatama | Megapolitan

DEMI mencegah adanya klaster baru penyebaran covid-19 saat Pilkada serentak 2020, Polri meeluarkan Surat Telegram (TR) Kapolri Nomor ST/2607/IX/OPS.2./2020 tertanggal 7 September 2020, Selasa (8/9).

Surat TR ditandatangani atas nama Kapolri oleh Kabaharkam Polri Komjen Pol Agus Andrianto selaku Kaopspus Aman Nusa II-Pencegahan covid-19 Tahun 2020.

Surat TR tersebut ditujukan kepada para Kasatgas dan Kasubsatgas Opspus Aman Nusa II-2020 serta para Kaopsda dan Kaopsres Aman Nusa II-2020.

Agus mengatakan, pelaksanaan tahapan Pilkada 2020 sudah memasuki tahapan penetapan paslon yang artinya bakal banyak interaksi masyarakat secara langsung antara penyelenggara Pilkada, peserta Pilkada dan masyarakat pemilih.

Hal itulah yang berpotensi menyebabkan munculnya klaster baru covid-19.

Baca juga:  Dua dari 34 Bapaslon Pilkada Serentak 2020 di Riau Positif Korona

Tak hanya untuk mencegah adanya klaster baru, TR juga diterbitkan guna memperkuat pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat (Harkamtibmas) pada setiap tahapan pelaksanaan Pilkada 2020.

Adapun isi dari TR menjabarkan polisi harus bersinergi, berkoordinasi, dan berkolaborasi dengan KPU, Bawaslu, Pemda, TNI, dan stakeholder terkait pelaksanaan pilkada 2020 ini agar berjalan dengan aman, serta cegah penularan covid-19.

"Kedua, mempelajari dan memahami peraturan KPU Nomor 5, 9, dan 10 Tahun 2020 terkait penerapan protokol kesehatan pada setiap tahapan pilkada 2020 khususnya tentang pembatasan jumlah peserta kampanye," papar Agus.

Lalu ketiga, polisi akan melakukan penggalangan kepada seluruh Paslon gubernur, wali kota, bupati, dan Parpol untuk mendeklarasikan komitmen mematuhi protokol kesehatan pada setiap tahapan pilkada Tahun 2020.

Selanjutnya, pihaknya akan melakukan kembali sosialisasi penerapan Protokol Kesehatan secara masif.

Terakhir, polisi diminta untuk meningkatkan pelaksanaan Patroli Siber dalam mencegah penyebaran Hoaks, black campaign, atau hate speech. (OL-5)

BERITA TERKAIT