09 September 2020, 04:23 WIB

Tim Percepatan Kebut Produksi Vaksin Merah Putih


Pra/Dhk/Aiw/X-3 | Humaniora

UNTUK mempercepat uji klinis dan produksi vaksin Merah Putih, pemerintah menyinergikan seluruh elemen mulai perguruan tinggi, sektor swasta, hingga institusi negara ke dalam satu wadah.

Hal ini dikemukakan Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, di Kantor Presiden, Jakarta, kemarin.

“Pengembangan vaksin ialah program yang harus bersinergi dan berhubungan satu sama lain. Setelah perpres terbit, semua komponen langsung bekerja. Waktu mereka tidak panjang. Kita harus selesai pada akhir 2021,” kata Wiku.

Presiden Joko Widodo, Kamis (3/9), menerbitkan Keputusan Presiden Nomor 18 Tahun 2020 tentang Tim Nasional Percepatan Pengembangan Vaksin Covid-19. Tim terdiri atas pengarah, penanggung jawab, dan pelaksana harian. Tim pengarah dipimpin Menko Perekonomian dan beranggotakan Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan dan Menko Polhukam.

Tim penanggung jawab dikomandoi Menristek/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional dengan Wakil Ketua I Menkes dan Wakil Ketua II Menteri BUMN. Tim penanggungjawab beranggotakan Menlu, Menperin, Mendag, Mendikbud, dan Kepala Badan POM.

Susunan pelaksana harian Tim Pengembangan Vaksin ialah Kemen ristek, Kementerian BUMN, Kemenlu, Kemenperin, Kemendag, Kemendikbud, Badan POM, LIPI, BPPT, perguruan tinggi, dan badan usaha. “Keberadaan tim sangat urgent karena untuk mendo rong ketahanan dan kemandirian bangsa dalam pengembangan vak sin covid-19,” ujar Juru Bicara Presiden Fadjroel Rachman.

Hingga kemarin, penambahan kasus positif covid-19 mencapai 3.046 orang sehingga totalnya menjadi 200.035 kasus. Pasien sembuh bertambah 2.306 orang sehingga total menjadi 142.958, sedangkan jumlah kasus meninggal bertambah 100 orang sehingga total menjadi 8.230 orang.

“Pertumbuhan kasus yang signifikan itu karena beberapa daerah telah melakukan pemeriksaan secara masif hingga melebihi standar WHO. Sebagaimana diketahui WHO merekomendasikan pemeriksaan terhadap 1.000 orang per satu juta penduduk setiap pekan,” ungkap Wiku.

Di sisi lain, Provinsi DKI Jakarta mencatat penambahan jumlah kasus sembuh terbanyak, yakni 929 kasus disusul Jawa Timur 342
kasus, Jawa Tengah 148 kasus, Bali 114 kasus, dan Sulawesi Selatan 100 kasus.

Sementara itu, penambahan jumlah kasus meninggal terbanyak dicatatkan Jawa Timur sebanyak 32 kasus, DKI Jakarta 21 kasus, Bali 12
kasus, Kalimantan Timur 8 kasus, dan Jawa Tengah 6 kasus. (Pra/Dhk/Aiw/X-3)

BERITA TERKAIT