09 September 2020, 04:17 WIB

Konsumen Yakin Ekonomi Membaik


Des/Mir/X-3 | Ekonomi

KEYAKINAN konsumen terhadap kondisi perekonomian di Indonesia semakin membaik. Hal itu tecermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) hasil survei yang dilakukan Bank Indonesia (BI) pada Agustus 2020.

Selama Agustus IKK di Indonesia berada dilevel 86,9 atau lebih tinggi dari IKK bukan sebelumnya, yakni 86,2. Keyakinan konsumen menguat terutama pada responden dengan pengeluaran sekitar Rp2 juta-Rp4 juta per bulan dengan rentang usia 20-50 tahun.

“Secara spasial, keyakinan konsumen di delapan kota yang disurvei membaik dengan kenaikan terting gi di Surabaya, Manado, dan Denpasar,” kata Kepala Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko dalam keterangan resmi, kemarin.

Onny melanjutkan membaiknya keyakinan konsumen pada Agustus 2020 didorong oleh persepsi terhadap kondisi ekonomi akhir-akhir ini. Persepsi itu terus membaik ditopang oleh meningkatnya keyakinan terhadap penghasilan, ketersediaan lapangan kerja, dan pembelian barang tahan lama.

Sementara itu, ekspektasi konsumen terhadap perkiraan kondisi ekonomi pada enam bulan mendatang rata-rata responden cukup optimistis kendati ada pelemahan dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

“Hal itu disebabkan ekspektasi terhadap penghasilan, ketersediaan lapangan kerja, dan kegiatan usaha ke depan tidak sekuat bulan sebelumnya,” ujar Onny.

Ekonom senior dari Indef, Didin S Damanhuri, menilai pemerintah perlu berfokus pada sisi konsumsi masyarakat untuk memulihkan ekonomi. Apa yang kini dilakukan pemerintah dalam menghadapi dampak pandemi pada perekonomian telah berada pada jalur tepat, yakni berfokus untuk meningkatkan sisi permintaan atau konsumsi masyarakat.

Itu dapat dilihat dari berbagai upaya peluasan penyaluran bantuan sosial dan dukungan bagi UMKM melalui program pemulihan ekonomi nasional. Menurut Didin, APBN 2020 yang direalokasi oleh pemerintah juga menjadi senjata utama melawan pelemahan ekonomi karena berpihak pada sisi permintaan meski belum optimal.

“Dengan adanya APBN yang relatif tertekan pada demand side, tetapi masih banyak daya serap yang kurang. Ini menjadi senjata untuk memulihkan perekonomian kita. Jangan lupa juga kontraksi ekonomi kita ini tidak terlalu dalam. Di periode sama AS kontraksi 33%. Singapura terkontraksi 14%. Indonesia masih relatif dengan pendekatan demand side kontraksinya tidak terlalu dalam,” ungkap Didin. (Des/Mir/X-3)

BERITA TERKAIT